faktakalbar

Terlalu Bahagia Bisa Berbahaya? Ini Penjelasan Ilmiah Mengapa Emosi Positif Kerap Menumpulkan Logika

Penulis: Redaksi Monday, 15 December 2025 📖 3 menit
Terlalu Bahagia Bisa Berbahaya? Ini Penjelasan Ilmiah Mengapa Emosi Positif Kerap Menumpulkan Logika
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Kita sering mendengar nasihat: "Jangan mengambil keputusan saat sedang marah." Nasihat ini sangat masuk akal karena amarah membuat kita destruktif . Namun, jarang ada yang mengingatkan: "Jangan mengambil keputusan penting saat sedang terlalu bahagia." Pernahkah Anda menyetujui permintaan teman, membeli barang mahal yang tidak perlu, atau mengumbar janji manis saat suasana hati sedang sangat gembira, lalu menyesalinya keesokan harinya? Ternyata, fenomena ini bukan sekadar kebetulan. Baca Juga:  Mudah Marah Menjelang Haid? Ini 4 Cara Sederhana Mengelola Emosi Agar Tetap Tenang Dalam dunia psikologi dan neurosains, ada penjelasan ilmiah mengapa rasa senang yang meluap-luap (euforia) cenderung membuat otak kita menjadi "kurang tajam" atau lengah dalam memproses risiko. Berikut adalah 4 alasan ilmiah mengapa kebahagiaan berlebih bisa menumpulkan logika. 1. Otak Menggunakan "Jalan Pintas" ( Heuristic Processing ) Riset dari Profesor Joe Forgas, seorang ahli psikologi sosial dari University of New South Wales, menunjukkan hubungan unik antara mood dan cara berpikir. Saat sedih, otak manusia mendeteksi adanya "masalah" atau "ancaman". Akibatnya, otak beralih ke mode analitis, detail, dan hati-hati untuk mencari solusi. Sebaliknya, saat kita sangat bahagia, otak menerima sinyal bahwa lingkungan kita "aman". Karena merasa aman, otak cenderung menggunakan heuristic processing atau pemrosesan mental jalan pintas. Kita menjadi malas membedah detail, lebih mengandalkan stereotip, dan lebih mudah percaya pada informasi yang dangkal tanpa memverifikasinya terlebih dahulu. 2. Banjir Dopamin Mengaburkan Risiko Secara biologis, rasa senang berkaitan erat dengan pelepasan neurotransmitter dopamin. Zat kimia ini memberikan rasa nikmat dan merupakan bagian dari sistem imbalan ( reward system ) otak. Ketika dopamin membanjiri otak, fokus kita menyempit hanya pada "imbalan" atau kesenangan yang ada di depan mata. Kemampuan Prefrontal Cortex bagian otak yang bertugas merencanakan masa depan dan menghitung konsekuensi menjadi terganggu. Akibatnya, kita cenderung meremehkan risiko ( risk-taking behavior ). Inilah sebabnya mengapa orang yang sedang euforia sering kali berani melakukan taruhan besar atau investasi bodong, karena di kepala mereka hanya terbayang keuntungan, bukan potensi kerugian. 3. Bias Optimisme yang Berlebihan Emosi positif memicu apa yang disebut optimism bias . Dalam kondisi netral, manusia sudah memiliki kecenderungan untuk merasa "lebih beruntung" dari orang lain. Namun, saat sedang sangat senang, bias ini melonjak drastis. Anda menjadi terlalu percaya diri ( overconfident ). Anda mungkin berpikir, "Ah, pasti bisa," atau "Tidak mungkin gagal," tanpa dasar data yang kuat. Keyakinan semu ini membuat kita kerap mengabaikan lampu kuning atau tanda-tanda bahaya yang sebenarnya sudah jelas terlihat. 4. Fokus pada Gambaran Besar, Melupakan Detail Penelitian menunjukkan bahwa kebahagiaan membuat cara pandang kita menjadi lebih global atau abstrak ( big picture oriented ). Ini bagus untuk kreativitas, tetapi buruk untuk hal-hal yang membutuhkan ketelitian. Saat sedang gembira, Anda mungkin setuju untuk menandatangani kontrak kerja sama hanya karena menyukai konsep besarnya, tanpa teliti membaca pasal-pasal kecil yang mungkin merugikan Anda di kemudian hari. Kita menjadi lebih toleran dan permisif, sehingga kehilangan daya kritis untuk melihat celah kesalahan. Merasa bahagia adalah hal yang sangat baik dan menyehatkan mental. Namun, artikel ini adalah pengingat bahwa setiap emosi ekstrem baik itu sedih, marah, maupun senang dapat mendistorsi realitas. Jadi, jika Anda sedang merasa sangat gembira hingga ingin melompat-lompat, nikmatilah momen tersebut. Tetapi, jika harus membuat keputusan finansial atau komitmen jangka panjang, tundalah sejenak. Beri waktu agar dopamin mereda dan logika Anda kembali bekerja 100 persen. Seperti kata pepatah kuno: "Jangan berjanji saat sedang senang, jangan memutuskan saat sedang marah." Baca Juga:  Jangan Asal Ngamuk! Ini 5 Keajaiban Memilih Diam Saat Marah yang Menyelamatkan Hubungan Anda (*Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK