faktakalbar

Tim Airlangga dan Seni Mengetuk Pintu Dinas Tanpa Proposal Tebal

Penulis: Redaksi Friday, 30 January 2026 📖 3 menit
Tim Airlangga dan Seni Mengetuk Pintu Dinas Tanpa Proposal Tebal
Faktakalbar.id, OPINI – Seharian ini warga Kota Pontianak dihebohkan “Cinta Segi Enam.” Ini kisah cinta orang super tajir, tentunya beda dengan cinta monyet. Ada satu lagi yang membuat warung kopi di Pontianak terasa panas, munculnya Tim Airlangga. Jangan bayangkan itu nama sebuah kerajaan, nama penerbit buku, bukan juga nama Menko. Airlangga yang di Kalbar, beda. Simak narasinya sambil seruput Koptagul , wak! Di Pontianak, kota yang panasnya bisa bikin es batu menyerah sebelum masuk gelas, ada satu cerita yang belakangan lebih sering dibahas dari harga kopi pancong, Tim Airlangga. Baca Juga:  Arogansi Aparat di Kemayoran, Pedagang Es Gabus Jadi Korban Kekerasan dan Salah Tuduh Ini cerita yang sumbernya rapi, dari pemberitaan Fakta Kalbar, tapi ketika sampai ke meja warkop , kisahnya jadi lain. Lebih hidup. Lebih nyentil. Menurut informasi yang dimuat Fakta Kalbar, Tim Airlangga disebut-sebut aktif mendatangi dinas dan badan di lingkungan Pemprov Kalbar. Mereka menjajaki proyek fisik, jasa konsultan, cleaning service , sampai jasa keamanan. Kedengarannya biasa, kalau tidak ada satu bumbu utama: kedekatan dengan lingkar kekuasaan. Kata Gunadi, narasumber yang dikutip Fakta Kalbar, tim ini keliling dinas dengan percaya diri tingkat tinggi. “Tim itu keliling dinas. Mereka datang meminta proyek fisik, konsultan dan jasa kebersihan dan keamanan, terutama penunjukan langsung konsultan,” ujarnya, 23/1/2026. Di warkop , kalimat itu langsung diterjemahkan sederhana. Ini bukan soal proposal, ini soal siapa kenal siapa. Masih menurut informasi Fakta Kalbar, Tim Airlangga disebut dipimpin oleh anak seorang pejabat tinggi di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalbar. Nah, di titik ini, obrolan warkop biasanya berhenti sebentar. Diseruput dulu koptagulnya . Lalu ada yang nyeletuk, “Oh… pantes anak bos besak.” Tidak ada tuduhan, tapi juga tidak ada yang benar-benar kaget. Tim ini, kata Gunadi dalam pemberitaan tersebut, tidak main satu pintu. Mereka menyasar banyak dinas. Tapi satu nama paling sering disebut, dinas yang biasa ngurus proyek. Di sana, Tim Airlangga disebut memperoleh sejumlah proyek konsultan . Tidak dijelaskan rinci proyeknya apa saja, tapi pola katanya menarik. Sejumlah, berulang, konsultan. Kata-kata yang kalau dirangkai, bikin alis terangkat. Lebih menarik lagi, menurut Fakta Kalbar, ada seorang pegawai honorer berinisial ALB yang disebut menjadi penghubung Tim Airlangga dengan internal dinas paling basah itu. “Dia yang jadi penghubung ke dalam,” kata Gunadi. Di warkop , bagian ini bikin meja diketuk pelan. Honorer, biasanya identik dengan antre gaji, tiba-tiba muncul sebagai simpul komunikasi. Seperti jalan kecil di kampung yang ternyata tembus ke jalan besar. Nama Airlangga sendiri, menurut penuturan Gunadi dalam berita itu, bukan nama asal comot. Nama itu disebut sebagai nama jalan atau gang tempat kediaman seorang pejabat tinggi Kalbar. Di warkop , ini langsung dikaitkan dengan efek psikologis. Seperti menyebut “rumah besar di ujung sana”, tanpa perlu menyebut nama orangnya. Yang dengar langsung paham. Tim Airlangga diketahui, menurut Fakta Kalbar, berkantor di kawasan Sungai Raya Dalam, Kabupaten Kubu Raya. Dari sana, koordinasi dilakukan. Sungai Raya Dalam, wilayah yang tak jauh dari pusat aktivitas pemerintahan, menjadi semacam posko. Tidak mencolok, tapi strategis. Seperti warung kopi yang tampak biasa, tapi semua orang penting pernah duduk di situ. Pemberitaan Fakta Kalbar juga mencatat kekhawatiran soal potensi konflik kepentingan. Wajar. Dalam sistem pengadaan yang ideal, proyek harus berjalan transparan dan kompetitif. Tapi di dunia nyata, terutama yang sering dibahas di warkop , yang bekerja kadang bukan cuma aturan tertulis, melainkan relasi, simbol, dan rasa sungkan. Soal klarifikasi, Fakta Kalbar mencatat sudah berupaya meminta konfirmasi kadis dinas basah terkait dugaan aktivitas Tim Airlangga. Terutama terkait mekanisme penunjukan langsung proyek konsultan, dan dugaan peran pegawai honorer. Hingga Rabu, 28/1/2026, belum ada tanggapan. Di warkop , diam begini biasanya diterjemahkan macam-macam. Mulai dari “lagi sibuk” sampai “biar reda dulu”. Cerita ini, kata Fakta Kalbar, masih akan ditelusuri. Di luar ruang redaksi, di meja-meja warkop Pontianak, ceritanya juga terus berjalan. Karena di kota yang punya Tugu Khatulistiwa, simbol keseimbangan dunia, orang-orang biasa hanya ingin satu hal, kekuasaan juga berdiri tegak lurus. Tidak condong ke nama, tidak miring ke kedekatan. Seperti biasa, di warkop , obrolan ditutup dengan kalimat klasik, “Kita tunggu aja lanjutannya, wak. Ini ceritanya belum tamat.” Baca Juga:  Cegah Kekerasan Anak, Dinsos Pontianak Sosialisasi di Sekolah (Rosadi)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK