Tim Tisu vs Tim Air: Ini Alasan Ilmiah Kenapa Orang Barat Terbiasa Cebok Tanpa Air
Faktakalbar.id, LIFESTYLE -
Pernahkah Anda merasa heran saat melihat turis asing atau masyarakat di negara Barat yang hanya menggunakan
tisu
untuk membersihkan diri setelah
buang air besar
? Bagi masyarakat Indonesia yang terbiasa menggunakan air, kebiasaan ini sering dianggap kurang bersih.
Namun, di balik perbedaan tersebut, ternyata ada alasan kuat yang melibatkan faktor iklim, sejarah, hingga pola konsumsi.
Dunia seakan terbagi menjadi dua kelompok: tim cebok pakai air dan tim cebok pakai tisu.
Fenomena ini bukan sekadar masalah selera, melainkan hasil dari evolusi budaya yang panjang. Berikut adalah alasan mengapa masyarakat Barat cenderung lebih memilih tisu dibandingkan air:
Baca Juga:
Hati-hati Saat di Toilet, Ini 3 Kondisi Terkait Buang Air Besar yang Bisa Membatalkan Puasa
1. Faktor Cuaca dan Iklim
Alasan yang paling logis adalah kondisi cuaca.
Di negara-negara beriklim dingin atau non-tropis, bersentuhan dengan air secara langsung bisa menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan, terutama saat musim dingin.
Sebaliknya, masyarakat di wilayah tropis seperti Indonesia justru merasa lebih segar dan bersih jika terkena air.
"Jika tidak terkena air, seseorang merasa akan kegerahan," tulis laporan mengenai perbedaan media kebersihan ini.
2. Pengaruh Pola Konsumsi (Diet)
Secara biologis, apa yang kita makan memengaruhi hasil akhir di toilet.
Masyarakat Barat yang terbiasa mengonsumsi makanan rendah serat cenderung menghasilkan kotoran yang lebih sedikit dan memiliki kadar air rendah, sehingga pembersihan dengan tisu dianggap sudah cukup.
Sementara itu, masyarakat Asia dan Afrika yang tinggi asupan serat menghasilkan kotoran yang lebih banyak, sehingga metode air menjadi jalan terbaik untuk membersihkannya secara tuntas.
3. Nilai Keagamaan dan Adat
Di wilayah Timur Tengah dan Asia, penggunaan air untuk bersuci sangat erat kaitannya dengan ajaran agama, seperti dalam Islam dan Hindu.
Air dianggap sebagai media penyempurna dalam urusan kebersihan.
Hal ini kontras dengan sejarah Romawi kuno yang sempat menggunakan batu, atau masyarakat China yang pertama kali menciptakan tisu sebagai alat pembersih sejak abad ke-6 SM.
4. Inovasi Industri Tisu Gulung
Kepopuleran tisu di Barat melonjak tajam seiring dengan kemunculan masif pabrik tisu di akhir abad ke-19.
Inovasi tisu gulung pada tahun 1890 membuat media ini menjadi sangat praktis, mudah didapat, dan akhirnya mengakar menjadi budaya lintas generasi di negara-negara Barat.
Meskipun riset ilmiah membuktikan bahwa penggunaan air jauh lebih efektif dalam menghilangkan bakteri dan kuman secara total, budaya penggunaan tisu sulit dilepaskan karena sudah terlanjur melekat pada identitas masyarakat beriklim dingin.
Baca Juga:
Waspada Ciri Kanker Usus Besar Selain BAB Berdarah
(Mira)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.