Tinggalkan Hustle Culture, Ini 6 Alasan Gen Z Berani Pilih Resign dan Terapkan Slow Living
Faktakalbar.id, LIFESTYLE -
Fenomena pekerja dari
Generasi Z (Gen Z)
yang memilih untuk
resign
atau mengundurkan diri dari pekerjaan korporat belakangan ini semakin marak terjadi.
Banyak pihak dari generasi sebelumnya sering melabeli mereka sebagai generasi yang mudah menyerah atau tidak tahan banting.
Padahal, keputusan tersebut sering kali bukan didasari oleh rasa malas. Alih-alih mengejar ambisi karier yang menguras tenaga (
hustle culture
), banyak Gen Z kini lebih memilih untuk beralih ke gaya hidup
slow living
.
Gaya hidup ini menekankan pada ketenangan, kesadaran penuh (
mindfulness
), dan menikmati hidup pada ritme yang lebih lambat dan bermakna.
Baca Juga:
Merasa Tersesat di Usia 20-an? Kenali 6 Tanda Kamu Sedang Mengalami Quarter Life Crisis
Lantas, apa yang sebenarnya mendasari perubahan pola pikir ini? Berikut adalah 6 alasan mengapa Gen Z berani pilih
resign
demi hidup
slow living
:
1. Prioritas Utama pada Kesehatan Mental (
Mental Health
)
Dibandingkan generasi sebelumnya, Gen Z memiliki kesadaran yang sangat tinggi terhadap isu kesehatan mental.
Mereka sangat peka terhadap gejala stres kronis dan kelelahan ekstrem (
burnout
).
Jika sebuah pekerjaan mulai mengorbankan kewarasan dan memicu kecemasan berlebih (
anxiety
), mereka tidak akan ragu untuk
resign
demi menyelamatkan mental mereka.
2. Penolakan Keras Terhadap
Hustle Culture
Bekerja lembur setiap hari tanpa henti atau
hustle culture
tidak lagi dianggap sebagai kebanggaan oleh Gen Z.
Mereka menyadari bahwa produktivitas yang beracun (
toxic productivity
) hanya akan menguntungkan perusahaan, sementara kehidupan pribadi mereka terbengkalai.
Gaya hidup
slow living
dipilih sebagai bentuk perlawanan terhadap eksploitasi waktu tersebut.
3. Mencari Makna, Bukan Sekadar Uang
Bagi Gen Z, gaji yang besar tidak lagi cukup untuk menahan mereka di tempat kerja yang buruk.
Mereka mencari pekerjaan yang memiliki nilai (
value
), makna, dan dampak positif.
Jika rutinitas kantor terasa kosong dan bertentangan dengan prinsip moral yang mereka yakini, mereka lebih memilih hidup sederhana asalkan hati merasa tenang.
4. Ilusi Tangga Karier yang Memudar
Gen Z tumbuh dengan melihat generasi orang tua mereka bekerja keras siang malam, namun tetap rentan terhadap pemutusan hubungan kerja atau jatuh sakit saat pensiun.
Hal ini membuat mereka kehilangan kepercayaan pada janji manis tangga karier korporat (
corporate ladder
).
Mereka merasa bahwa mengorbankan masa muda demi perusahaan tidak sepadan dengan hasil akhirnya.
5. Kebutuhan Mutlak Akan
Work-Life Balance
"Bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja."
Prinsip ini sangat dipegang teguh oleh Gen Z. Menerapkan
slow living
memungkinkan mereka memiliki
work-life balance
yang sesungguhnya.
Mereka menginginkan waktu yang cukup untuk menyalurkan hobi, merawat diri (
self-care
), dan berkumpul bersama orang-orang terdekat tanpa diganggu oleh notifikasi surel pekerjaan di akhir pekan.
6. Fleksibilitas Berkat Kemajuan Teknologi
Gen Z sangat menyadari bahwa bekerja tidak harus selalu dilakukan dari bilik kantor pukul delapan pagi hingga lima sore.
Mereka memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menjadi pekerja lepas (
freelancer
), kreator konten, atau mengambil pekerjaan secara jarak jauh (
remote work
).
Fleksibilitas ini sangat mendukung konsep
slow living
karena mereka memegang kendali penuh atas waktu dan energi mereka sendiri.
Keputusan Gen Z untuk
resign
dan beralih ke
slow living
pada dasarnya adalah sebuah upaya untuk mendefinisikan ulang makna kesuksesan.
Kesuksesan bagi mereka bukan lagi sebatas jabatan mentereng, melainkan tentang memiliki kendali atas hidup yang bahagia dan minim tekanan.
Baca Juga:
Jangan Ditunda Lagi, Ini 6 Tanda Kamu Sudah Wajib Resign dari Tempat Kerja
(Mira)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.