faktakalbar

Tragedi Bunuh Diri, Alarm Sosial di Kota Pontianak

Penulis: Redaksi Friday, 04 July 2025 📖 4 menit
Tragedi Bunuh Diri, Alarm Sosial di Kota Pontianak
OPINI - Dua tragedi dalam sepekan terakhir mengguncang nurani warga Kota Pontianak. Dua pria muda, VP (24 tahun) dan JI (36 tahun) , ditemukan meninggal dunia karena dugaan bunuh diri. Kematian yang datang diam-diam, tanpa pamit, tanpa pesan. Hanya keheningan yang tersisa, meninggalkan duka mendalam dan pertanyaan yang menggantung, "Apa yang sebenarnya terjadi?" Sebagian mungkin memilih menganggapnya sebagai urusan pribadi, ranah domestik yang tak layak dicampuri. Namun, kita tak bisa terus bersembunyi di balik dalih itu. Tragedi ini bukan semata tentang individu yang merasa kalah, melainkan cermin retak dari kondisi sosial kita hari ini sistem yang gagal menyediakan ruang aman bagi mereka yang ingin bersuara tentang luka batin mereka. Baca Juga:  Membangun Desa Cendekia: Jalan Emas Menuju Kesejahteraan dan Keadilan Ekologis Kita sedang menghadapi krisis yang kerap luput dari perhatian, yaitu krisis kesehatan mental pada laki-laki. Krisis ini hadir dalam senyap, tak terlihat, namun nyata dan mematikan. Jika masyarakat, negara, dan institusi keagamaan tidak segera bertindak, maka kesunyian ini akan terus merenggut nyawa mereka yang terabaikan. Sejak kecil, laki-laki dibentuk dalam kerangka "kuat" , "tangguh" , dan "tegar" . Mereka diajari menahan tangis, menekan emosi, dan menyembunyikan rasa takut. Semua ekspresi manusiawi dijinakkan atas nama maskulinitas. Maka ketika terluka, mereka diam. Ketika hancur, mereka menyendiri. Bukan karena tak merasa, tetapi karena tak tahu bagaimana menyampaikannya, atau merasa tidak akan dipercaya, tidak diterima, bahkan mungkin dihina. Dalam budaya semacam ini, banyak laki-laki dewasa tumbuh dalam kehidupan sosial yang dangkal secara emosional. Baca Juga:   Pendapat Hukum atas Dugaan Pelanggaran Pemasangan Kabel Fiber Optik secara Semrawut dan Tanpa Izin di Kota Pontianak Persahabatan dibangun di atas aktivitas, bukan kedekatan batin. Di rumah, mereka dituntut menjadi penopang ekonomi, bukan penerima dukungan emosional. Di tempat kerja, mereka harus terus tampil prima tanpa ruang untuk gagal. Ketika hidup mulai runtuh, tak ada tempat bersandar. Tekanan ekonomi, ekspektasi budaya, relasi sosial yang rapuh, serta keterasingan spiritual menjadi bom waktu. Ketika semuanya meledak bersamaan, mereka menyimpan segalanya sendiri, berharap waktu menyembuhkan. Padahal waktu tidak menyembuhkan, ia hanya menumpuk luka. Data WHO menunjukkan, laki-laki Indonesia 3,5 kali lebih berisiko meninggal akibat bunuh diri dibanding perempuan. Secara global, World Journal of Psychiatry (2022)  mencatat bahwa 7 dari 10 kasus bunuh diri dilakukan oleh laki-laki. Baca Juga:   KBIHU DIHINA, UMAT BICARA Ini bukan sekadar angka. Ini jeritan yang tak terdengar, permintaan tolong yang tak pernah kita dengarkan. Ironisnya, perempuan lebih sering terdiagnosis gangguan mental, namun laki-laki lebih sering meninggal karenanya. Perempuan cenderung lebih terbuka dan mencari bantuan. Laki-laki, sebaliknya, lebih pandai menyembunyikan luka hingga tak lagi mampu. Islam sendiri tidak menolak ekspresi kesedihan. Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam menangis saat putranya wafat dan bersedih berbulan-bulan setelah Khadijah dan Abu Thalib meninggal dunia. Al-Qur’an mencatat bagaimana Nabi Ya’qub menangis hingga matanya memutih karena kehilangan Yusuf (QS. Yusuf: 84) . Kesedihan bukanlah aib. Air mata bukan simbol kelemahan. Justru penyangkalan terhadap rasa sakitlah yang menghancurkan manusia dari dalam. Baca Juga:  Membunuh Korupsi, Menghidupkan Martabat Bangsa Sayangnya, keislaman kita kadang dijalankan secara kaku. Dakwah terlalu sering menjadi menara perintah dan larangan, tetapi kurang menghidupkan empati dan kasih sayang. Padahal, inti dari Islam adalah rahmah, kasih sayang. Sudah saatnya pendekatan dakwah kembali ke akarnya: menyentuh hati, menguatkan jiwa, dan membangun ruang aman spiritual. Masjid bukan hanya tempat sujud tubuh, tetapi juga sujud kalbu (hati) tempat seseorang bisa menunduk, bukan karena tekanan, tetapi karena merasa dipeluk oleh Tuhannya dan diterima oleh sesama. Hal ini juga dapat disesuaikan dengan program-program yang dapat diaplikasikan oleh agama lainnya. Sebagai aktivis dakwah kepemudaan, saya memandang ini sebagai momentum penting untuk mengambil langkah konkret, di antaranya: Pertama , negara, terutama pemerintah daerah, harus lebih serius dalam mengatasi isu kesehatan mental, termasuk pada laki-laki. Layanan konseling yang gratis dan mudah diakses, pelatihan kesehatan jiwa berbasis komunitas, serta kurikulum pendidikan emosi sejak dini perlu dibangun secara sistematis. Kedua, lembaga keagamaan mesti memperluas mandat dakwahnya. Dakwah bukan hanya ajakan menuju keimanan, tetapi juga ruang penguatan psiko-spiritual. Masjid dan majelis ilmu harus menjadi tempat aman untuk berbicara dan bercerita. Ketiga, masyarakat harus mengubah cara pandangnya terhadap laki-laki. Kita harus berhenti mengidealkan sosok “laki-laki sempurna” yang tak pernah salah atau lelah. Biarkan mereka menjadi manusia, bukan mitos. Normalisasikan percakapan tentang rasa takut, kecewa, dan kehilangan. Bangun ruang untuk saling mendengar, bukan hanya menghakimi. Dua tragedi di Pontianak adalah alarm sosial yang keras. Bukan untuk diratapi semata, tapi untuk ditindaklanjuti. Jika hari ini kita gagal mendengar suara lirih para lelaki yang terluka, jangan kaget jika besok kita kembali membaca berita duka yang sama. Kini saatnya kita bersatu menghentikan siklus ini. Kesehatan jiwa, termasuk pada laki-laki, adalah tanggung jawab kita semua. Oleh: Muhammad Viki Riandi Wakil Ketua Bidang Dakwah dan Pengkajian Agama Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Kalimantan Barat *Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan bukan pandangan, sikap, atau tanggung jawab redaksional Faktakalbar.id

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK