faktakalbar

Utang RI Tembus Rp9.920 Triliun, Menkeu Purbaya: "Bandingkan dengan Singapura dan Jepang, Kita Sangat Aman"

Penulis: Redaksi Tuesday, 12 May 2026 📖 2 menit
Utang RI Tembus Rp9.920 Triliun, Menkeu Purbaya: "Bandingkan dengan Singapura dan Jepang, Kita Sangat Aman"
Faktakalbar.id, NASIONAL  – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pasang badan terkait kenaikan angka utang pemerintah Indonesia yang kini hampir menyentuh level psikologis Rp10.000 triliun. Meski secara nominal melonjak, Purbaya menegaskan bahwa kesehatan fiskal Indonesia justru jauh lebih baik dibandingkan banyak negara maju dan tetangga di Asia Tenggara. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), posisi utang pemerintah per 31 Maret 2026 berada di angka Rp9.920,42 triliun, naik signifikan dari posisi Desember tahun lalu yang sebesar Rp9.637,9 triliun. Angka ini mencerminkan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 40,75%. Fokus pada Rasio, Bukan Nominal Menkeu Purbaya meminta masyarakat dan pengamat untuk tidak terjebak pada "ketakutan nominal". Menurutnya, indikator sahih kesehatan ekonomi sebuah negara adalah rasio utang terhadap PDB. "Kalau kita lihat acuan yang paling ketat di Eropa, rasio utang ke PDB berapa? 60 persen. Kita masih jauh," ujar Purbaya saat ditemui di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin (11/5). Ia menambahkan bahwa jika dibandingkan secara internasional, posisi Indonesia tergolong sangat konservatif dan berhati-hati. "Singapura berapa? 180 persen. Malaysia 60 persen lebih, Thailand juga tinggi semua. Kita termasuk paling hati-hati dibanding negara-negara sekitar kita, dibanding Amerika juga, dibanding Jepang apalagi (yang mencapai) 275 persen," tuturnya. Analogi Perusahaan: Utang untuk Ekspansi Purbaya mengibaratkan pengelolaan negara layaknya sebuah korporasi besar yang membutuhkan modal untuk berkembang. Ia menilai kapasitas ekonomi Indonesia saat ini masih sangat mampu untuk menopang beban utang tersebut.  "Utang itu seperti kalau satu perusahaan mau mengembangkan usahanya, dia bisa utang. Tapi perusahaan yang kecil atau perusahaan yang besar beda kemampuannya," jelas Purbaya. Baca Juga:  APBN di Tepi Jurang, Kinerja Purbaya Mulai Dipertanyakan  "Kalau satu perusahaan untungnya cuma Rp1 juta, dia utang Rp1 juta, sudah kesusahan. Tapi kalau perusahaan yang untungnya Rp100 juta, utang Rp1 juta enggak apa-apa. Makanya dibagi *ratio debt to GDP*." Struktur Utang yang Didominasi SBN Pemerintah mengklaim pengelolaan utang dilakukan secara terukur. Dari total Rp9.920,42 triliun tersebut, mayoritas atau sekitar 87,22% (Rp8.652,89 triliun) berbentuk Surat Berharga Negara (SBN), sementara sisanya sebesar 12,78% (Rp1.267,52 triliun) berasal dari pinjaman. Kemenkeu menekankan bahwa ketergantungan pada SBN menunjukkan kepercayaan pasar domestik yang kuat dan kemandirian pembiayaan. Di akhir pernyataannya, Purbaya menyayangkan pandangan publik yang sering kali hanya menyoroti sisi negatif tanpa melihat data pembanding.  "Jadi kalau dilihat dari itu, harusnya Anda muji-muji kita. Cuma enggak pernah kan? Kenapa Anda lihat dari sisi negatif terus? Lihat sisi komparatif," pungkasnya. Baca Juga:  Capaian Pertumbuhan Ekonomi Kalbar Tembus Enam Persen Menjadi Tertinggi di Pulau Kalimantan

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK