faktakalbar

Waspada! 6 Kesalahan Pola Asuh Ini Bikin Anak Tumbuh Jadi Sosok yang Merasa Selalu Benar

Penulis: Redaksi Wednesday, 26 November 2025 📖 3 menit
Waspada! 6 Kesalahan Pola Asuh Ini Bikin Anak Tumbuh Jadi Sosok yang Merasa Selalu Benar
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri ( confident ) dan berani berpendapat. Namun, ada garis tipis yang memisahkan antara kepercayaan diri yang sehat dengan arogansi atau sikap merasa paling benar ( self-righteous ). Fenomena anak yang tidak mau disalahkan, anti-kritik, dan sulit meminta maaf sering kali bukan bawaan lahir, melainkan hasil dari pola asuh yang keliru selama bertahun-tahun. Tanpa disadari, niat baik orang tua untuk "melindungi" anak justru menanamkan bibit egoisme. Baca Juga:  Pakar Parenting: Ingin Hubungan dengan Anak Membaik? Lunasi Dulu Hutang Pengasuhan Agar tidak menyesal di kemudian hari, hindari 6 kesalahan fatal dalam membesarkan anak berikut ini. 1. Selalu Membela Anak, Bahkan Saat Dia Salah Naluri orang tua adalah melindungi anak. Namun, menjadi "pengacara" bagi anak setiap kali ia terlibat masalah dengan teman, guru, atau saudara adalah kesalahan besar. Jika Anda selalu menyalahkan pihak lain (misalnya: "Ah, gurunya yang galak" atau "Temanmu yang nakal duluan") tanpa mendengarkan fakta objektif, anak akan belajar bahwa dirinya adalah korban abadi. Ia akan tumbuh dengan pola pikir bahwa dunia yang harus berubah untuknya, bukan dia yang harus beradaptasi atau memperbaiki diri. 2. " Lawnmower Parentin g": Menyingkirkan Semua Rintangan Pernahkah Anda mengerjakan PR anak karena tidak tega melihatnya kesulitan? Atau buru-buru mengganti mainannya yang rusak agar dia tidak menangis? Gaya asuh Lawnmower Parenting ini "memangkas" semua kesulitan di depan anak agar hidupnya mulus. Akibatnya, anak tidak pernah belajar menghadapi kegagalan. Saat dewasa, ketika ia melakukan kesalahan, ia akan syok dan menolak mengakuinya karena selama ini ia dikondisikan untuk selalu "berhasil" dan "benar". 3. Memberi Pujian pada Bakat, Bukan Usaha Memuji anak itu baik, tapi perhatikan caranya. Terlalu sering memuji dengan label statis seperti "Wah, kamu jenius!" atau "Kamu memang paling pintar!" dapat memicu Fixed Mindset . Anak akan merasa status "pintar" itu adalah harga dirinya. Ketika ia melakukan kesalahan, ia akan merasa status tersebut terancam. Akhirnya, ia akan berdebat mati-matian bahwa dirinya benar demi mempertahankan label "si jenius" tersebut. Sebaiknya, pujilah prosesnya: "Ayah bangga kamu sudah bekerja keras memecahkan soal itu." 4. Orang Tua Tidak Pernah Memberi Contoh Meminta Maaf Anak adalah peniru ulung. Jika Anda sebagai orang tua melakukan kesalahan (misalnya membentak anak atau lupa janji) namun gengsi untuk meminta maaf, anak akan merekam perilaku tersebut. Mereka akan belajar bahwa meminta maaf adalah tanda kelemahan. Sebaliknya, orang tua yang berani berkata, "Maaf ya Nak, Ibu tadi salah bicara karena emosi," mengajarkan anak bahwa mengakui kesalahan adalah tindakan ksatria dan manusiawi. 5. Tidak Mengajarkan Sudut Pandang Orang Lain (Empati) Anak-anak secara alami bersifat egosentris (berpusat pada diri sendiri). Tugas orang tua adalah melatih otot empatinya. Kesalahan terjadi ketika orang tua selalu memvalidasi perasaan anak tanpa mengajak mereka melihat sisi lain. Saat anak bertengkar, ajukan pertanyaan reflektif: "Menurutmu, apa yang dirasakan temanmu saat kamu merebut mainannya?" Tanpa latihan ini, anak akan tumbuh meyakini bahwa perasaannya adalah satu-satunya kebenaran mutlak. 6. Takut Berkata "Tidak" (Pola Asuh Permisif) Ingin menjadi sahabat bagi anak boleh saja, tapi jangan sampai menghilangkan otoritas Anda sebagai orang tua. Pola asuh permisif yang selalu menuruti keinginan anak karena takut anak tantrum atau kecewa, akan melahirkan mentalitas entitlement (merasa berhak). Anak yang tidak pernah mendengar kata "Tidak" akan merasa bahwa segala keinginannya adalah titah yang harus dituruti. Ketika dunia nyata menolaknya, ia akan menganggap dunia yang salah, bukan dirinya. Membesarkan anak yang rendah hati dan berjiwa besar memang tantangan berat di era modern ini. Namun, dengan berhenti melakukan 6 kesalahan di atas, Anda sedang menyelamatkan masa depan anak Anda agar bisa diterima dengan baik di masyarakat dan memiliki hubungan sosial yang sehat. Baca Juga:  Lagi Burnout Berat? 4 Cemilan Ini Bisa Bantu Perbaiki Mood Kamu Seketika (*Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK