faktakalbar

Yakin Kerokan Itu Aman? Kenali 3 Risikonya Saat Badan Meriang

Penulis: Redaksi Saturday, 01 November 2025 📖 2 menit
Yakin Kerokan Itu Aman? Kenali 3 Risikonya Saat Badan Meriang
Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, "kerokan" adalah ritual wajib dan solusi pamungkas saat badan terasa "masuk angin". Sensasi hangat dan munculnya guratan merah di kulit sering dianggap sebagai tanda bahwa "angin" telah berhasil dikeluarkan dan kesembuhan akan segera datang. Secara tradisi , praktik ini memberikan rasa nyaman dan lega. Namun, dari sudut pandang medis, metode yang melibatkan gesekan kuat pada permukaan kulit ini bukannya tanpa risiko. Baca Juga:  Waspada! 4 Kebiasaan Sepele Ini Ternyata Biang Keladi Masuk Angin Sebelum Anda mengambil koin dan minyak, pahami 3 potensi bahaya atau efek samping kerokan yang perlu Anda waspadai. 1. Membuka Pintu Masuk Infeksi Proses kerokan pada dasarnya adalah menggesek benda tumpul (seperti koin atau alat kerok) secara berulang ke kulit yang telah dibaluri minyak. Gesekan kuat ini bertujuan untuk memecahkan pembuluh darah kapiler di bawah kulit, yang kemudian tampak sebagai jejak merah (petechiae). Gesekan ini dapat menyebabkan iritasi, lecet, atau luka mikroskopis (micro-abrasions) pada permukaan kulit. Jika alat kerok yang digunakan tidak steril atau kulit tidak dibersihkan dengan benar, luka kecil ini bisa menjadi "pintu masuk" yang sempurna bagi bakteri dan kuman, yang berpotensi memicu infeksi kulit seperti selulitis. 2. Memperparah Peradangan (Inflamasi) Banyak yang salah kaprah mengira warna merah pekat adalah "angin" yang keluar. Secara medis, warna merah itu adalah tanda peradangan (inflamasi) dan pendarahan kapiler di bawah kulit. Anda sebenarnya sedang menciptakan memar yang disengaja. Alih-alih menyembuhkan, Anda justru menambahkan trauma baru pada jaringan tubuh yang mungkin sudah meradang karena pegal atau infeksi virus. Pada beberapa kasus, peradangan yang berlebihan ini justru bisa membuat rasa nyeri atau pegal terasa lebih buruk setelah efek hangatnya hilang. 3. Menyamarkan Gejala Penyakit Serius Ini adalah risiko terbesar dan paling berbahaya dari kerokan. "Masuk angin" bukanlah diagnosis medis, melainkan sekumpulan gejala seperti meriang, pusing, mual, kembung, dan badan pegal. Gejala-gejala ini sangat umum dan bisa menjadi tanda dari berbagai penyakit. Gejala "masuk angin" bisa jadi merupakan tanda awal dari penyakit serius. Sebagai contoh, kondisi yang sering disalahartikan sebagai "angin duduk" bisa jadi merupakan gejala serangan jantung, yang ditandai dengan nyeri dada, mual, dan sesak. Demikian pula, fase awal Demam Berdarah (DBD) atau bahkan infeksi paru (pneumonia) sering kali memiliki gejala yang mirip flu atau masuk angin berat, seperti meriang dan badan pegal. Kerokan memberikan "rasa nyaman semu" atau efek plasebo yang membuat penderita merasa sedikit lebih baik. Akibatnya, mereka mungkin menunda mencari pertolongan medis yang sesungguhnya, padahal penanganan cepat sangat krusial untuk penyakit-penyakit tersebut. Baca Juga:  Fakta atau Mitos: Boleh Tidaknya Mandi Saat Demam? (*Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK