faktakalbar

Gejala Stres pada Remaja di Sintang Tinggi, Psikolog: Anak Butuh Didengarkan bukan Dihakimi

Penulis: Redaksi Thursday, 24 April 2025 📖 2 menit
Gejala Stres pada Remaja di Sintang Tinggi, Psikolog: Anak Butuh Didengarkan bukan Dihakimi
Faktakalbar.id, SINTANG - Tingkat gejala stres pada remaja di Sintang mulai mengkhawatirkan. Menanggapi kasus tersebut, Psikolog RSJ Sudiyanto Sintang , Noverita Siboro, mengungkapkan gejala-gejala stres yang rentan di usia remaja saat ini. Noverita mengatakan bahwa usia remaja yang rentan terserang stres adalah remaja yang berusia 12-18 tahun karena kemampuan berpikir otaknya belum tumbuh sempurna. “Karena salah satu penyebab stres itu adalah pubertas gitu ya pencarian identitas,” tambahnya. Baca Juga: Pasien IMS Puskesmas Sungai Durian Didominasi Warga Luar Kabupaten Sintang Gejala yang terjadi pada fisik remaja ketika mengalami stres adalah sakit perut, sakit kepala dan lebih sering menutup diri terhadap dunia sosial.  “Mudah marah, suka menarik diri, susah untuk bersosialisasi, susah untuk konsentrasi, biasa untuk keluhan fisiknya tuh sakit perut lah, sakit kepala lah, overthinking lah,” ungkap pemilik klinik praktek mandiri, Psikomedia. Ia turut menjelaskan bahwa stres pada remaja dipengaruhi oleh lingkungan tempat mereka bertumbuh dan pola asuh yang didapatkan selama masa pertumbuhannya. “Sebenarnya stres itu adalah respon psikologis dan fisiologis individu ya terhadap tekanan, baik itu internal maupun eksternal. Lebih ke kapasitas orang itu mampu ndak menghadapi tekanan-tekanan itu,” katanya. Selain lingkungan keluarga, lingkungan pertemanan dan tuntutan akan nilai sekolah juga menjadi penyebab tingginya tingkat stres pada anak remaja. Kurangnya komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak dapat membuat mental anak ikut terganggu. Afirmasi yang seharusnya didapatkan dari keluarga, tidak bisa mereka dapatkan dan membuat anak mencari validasi di tempat lain sehingga terus membandingkan diri dengan orang lain. “Anak jaman sekarang kan ga ada yang ga punya media sosial ya, mereka tu biasanya lihat-lihat di media sosial, mulailah mereka membandingkan diri mereka dengan orang lain, mulailah mereka tu mencari validasi di postingan-postingan mereka misalnya kalo mereka posting banyak ga yang ngelike, mereka selalu membandingkan,” jelas Noverita. Pembulian yang terjadi di keluarga atau teman sebaya juga menjadi faktor penyebab stres pada remaja. Pembulian verbal yang menyerang fisik, tanpa disadari membuat anak menjadi semakin kecil hati akan dirinya.  “Bagi orang tua itu bercanda tapi itu sebenarnya menyakitkan mereka,” tegasnya. Menanggapi hal itu, Psikolog Sintang ini berpesan kepada orang tua untuk lebih sering berkomunikasi dengan anak terkait kehidupan sehari-hari mereka agar mereka tidak menanggung beban pikirannya itu sendirian. “Buat orang tua dan orang-orang di sekitar remaja, yang dibutuhkan remaja adalah didengarkan dan dipahami, agar ketika mereka mengalami masalah atau persoalan hidup mereka bisa atau mau berkeluh kesah atau mengkonfirmasi apapun dengan orang-orang di sekitarnya. Bukan malah dihakimi atau dianggap tidak tau atau lebay dari orang dewasa,” tutupnya. (Jn/Vika Krisa) Baca Juga: Puskesmas Sungai Durian Minta Lakukan Pemeriksaan Bersama Pasangan Jika Sudah Terjangkit Virus IMS

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK