Cegah Virus Nipah dan ASF, Karantina Kalbar Amankan Puluhan Kilogram Daging Ilegal di PLBN Entikong
Faktakalbar.id, SANGGAU
– Satuan Pelayanan Karantina Kalimantan Barat memperketat pengawasan di Pos Lintas Batas Negara
(PLBN) Entikong
guna mengantisipasi masuknya komoditas hewan ilegal menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.
Baca Juga:
KJRI Kuching dan BP2MI Kawal Pemulangan Jenazah PMI asal NTB Lewat PLBN Entikong
Dalam operasi intensif tersebut, petugas berhasil menyita puluhan kilogram daging babi dan kerbau yang mencoba masuk ke wilayah Indonesia tanpa dokumen resmi, Senin (16/2/2026).
Total barang bukti yang diamankan meliputi 12,85 kg daging babi, 4 kg kepala babi, 3,45 kg daging babi olahan, serta 2,7 kg daging kerbau.
Berdasarkan regulasi perkarantinaan, produk babi beserta turunannya melalui jalur tersebut merupakan barang terlarang demi melindungi populasi ternak dalam negeri dari ancaman penyakit.
Pengetatan ini dilakukan sebagai langkah krusial untuk menangkal ancaman biologis nyata, seperti
African Swine Fever
(ASF), Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), serta Virus Nipah.
Virus Nipah sendiri merupakan penyakit zoonotik yang dapat menular dari hewan ke manusia dengan tingkat fatalitas yang tinggi.
Penanggung Jawab Karantina Kalimantan Barat Satuan Pelayanan PLBN Entikong, Swiet Sinay, menegaskan bahwa lonjakan lalu lintas menjelang hari besar sering kali diikuti oleh potensi pelanggaran penyelundupan produk ilegal.
Baca Juga:
Karantina Kalbar Tahan Daging Kelelawar Ilegal di PLBN Aruk
Pihaknya memastikan tidak ada kompromi bagi setiap produk hewan yang tidak memenuhi ketentuan teknis.
"Lonjakan lalu lintas menjelang Imlek berbanding lurus dengan potensi pelanggaran. Kami tidak mengenal kompromi, setiap produk hewan yang masuk wajib memenuhi ketentuan teknis. Tindakan penolakan ini adalah wujud nyata perlindungan kami terhadap kesehatan masyarakat dan kekayaan hayati Indonesia,
" tegas Swiet Sinay.
Melalui pengawasan ketat ini, Karantina Kalimantan Barat berkomitmen menjaga perbatasan sebagai lini pertahanan pertama bangsa dari risiko biologis yang dapat merugikan stabilitas ekonomi peternakan dan kesehatan nasional.
(FR)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.