Kecepatan AI Ancam Akurasi Berita, Pers dan Polisi di Sekadau Soroti Risiko Disinformasi
Faktakalbar.id, SEKADAU
– Pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau
artificial intelligence
(AI)
kini menjadi pedang bermata dua bagi dunia informasi.
Meski menawarkan efisiensi, teknologi ini juga memperlebar celah penyebaran
hoaks
dan disinformasi yang kian sulit dideteksi.
Dalam peringatan
Hari Pers Nasional (HPN)
2026 yang digelar di Lupung Coffee, Sekadau Hilir, Sabtu (14/2/2026), ancaman ini menjadi sorotan utama.
Kolaborasi antara institusi kepolisian dan insan pers dipertaruhkan untuk menjaga ruang publik tetap kondusif di tengah gempuran konten otomatis.
Baca Juga:
Daftar 10 Teknologi yang Mengubah Dunia: Dari Internet hingga Kecerdasan Buatan (AI)
Kepala Seksi Humas Polres Sekadau, Triyono, menekankan bahwa kecepatan distribusi informasi di era digital sering kali tidak dibarengi dengan akurasi.
Kehadiran AI memungkinkan produksi konten secara masif, namun di saat yang sama berpotensi besar disalahgunakan untuk menciptakan keresahan sosial.
“Pers harus adaptif sekaligus kritis. Informasi yang disampaikan wajib akurat, berimbang, dan tetap berpegang pada kode etik jurnalistik,” ujar Triyono dalam diskusi bertema “Adaptif dan Kritis di Era AI” tersebut.
Penyebaran disinformasi yang diproduksi melalui mesin menjadi tantangan serius bagi stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (
kamtibmas
).
Peran jurnalisme kini bergeser dari sekadar penyampai berita menjadi penyaring kebenaran. Verifikasi menjadi benteng terakhir untuk menjaga kepercayaan publik yang mulai terkikis oleh narasi-narasi palsu berbasis algoritma.
Di sisi lain, keterbukaan informasi dan transparansi kerja kepolisian dinilai memerlukan dukungan media yang bertanggung jawab.
Kerja jurnalistik yang mengutamakan cek dan ricek dianggap jauh lebih berharga daripada sekadar mengejar kecepatan unggah (
upload
) yang mengabaikan validitas data.
Peringatan HPN tahun ini di Sekadau menjadi pengingat bagi para pelaku industri media untuk tidak sekadar menjadi pengekor teknologi.
Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana memanfaatkan AI untuk riset yang mendalam, tanpa mengabaikan prinsip kemanusiaan dan kejujuran dalam pemberitaan.
Baca Juga:
Pers di Tengah Ancaman AI: Diskominfo Sekadau Ingatkan Bahaya Hoaks Manipulatif dan Deepfake
(Arya)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.