faktakalbar

Masuk Empat Besar Negara Paling Rawan, Kepala BNPB Soroti Tingginya Risiko Bencana di Indonesia

Penulis: Redaksi Tuesday, 12 May 2026 📖 2 menit
Masuk Empat Besar Negara Paling Rawan, Kepala BNPB Soroti Tingginya Risiko Bencana di Indonesia
Faktakalbar.id, NASIONAL - Badan Nasional Penanggulangan Bencana kembali menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan potensi risiko bencana paling tinggi di dunia. Peringatan tegas ini disampaikan langsung oleh Kepala BNPB Suharyanto saat memberikan pengarahan kepada para Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah se-Indonesia. Baca Juga:  Jajaki Kerja Sama dengan Undip BNPB Kembangkan Inovasi Teknologi Penanggulangan Bencana Pengarahan strategis ini merupakan bagian dari agenda Senior Disaster Management Training yang digelar di Graha BNPB Jakarta pada Senin, (11/5/2026). Suharyanto memaparkan data resmi dari Bank Dunia yang menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga sebagai negara dengan risiko bencana tertinggi secara global. Data internasional tersebut juga secara gamblang menempatkan Indonesia pada posisi keempat sebagai negara yang paling rentan terpapar oleh dampak bencana alam. "Indonesia peringkat ketiga sebagai negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia, dan peringkat keempat negara dengan paparan bencana tertinggi di dunia," jelas Suharyanto. Kondisi geografis Indonesia yang terletak di kawasan cincin api pasifik menjadi salah satu faktor utama penyebab tingginya ancaman bahaya ini. Suharyanto mengingatkan kembali bahwa bentang alam nusantara yang indah dan kaya sumber daya juga menyimpan potensi ancaman bencana katastropik setiap saat. Negara ini sangat rentan dilanda berbagai jenis bencana mematikan mulai dari gempa bumi skala besar, tsunami, erupsi gunung berapi aktif, hingga tanah longsor. Dunia internasional bahkan secara terbuka menjuluki Indonesia sebagai "laboratorium bencana" karena tingginya frekuensi dan variasi kejadian alam yang merusak. Predikat tersebut menurut Kepala BNPB bukanlah sebuah kebanggaan melainkan cambuk peringatan keras bagi seluruh pihak untuk meningkatkan level kewaspadaan. Baca Juga:  Robot Kecoa hingga MPASI Darurat: BNPB Gandeng Undip Perkuat Teknologi Kebencanaan Seluruh elemen bangsa dituntut untuk terus berbenah dalam meningkatkan kemampuan mitigasi dan penanggulangan risiko bencana di Indonesia secara menyeluruh. Suharyanto secara khusus menekankan pentingnya kapasitas para pemimpin penanggulangan bencana di level daerah untuk mampu membaca situasi krisis secara cepat. "Hampir tidak ada wilayah di Indonesia yang betul-betul aman; Kalimantan memang cenderung lebih aman dari gempa bumi dan tsunami menurut data, tapi ingat, di sana karhutla selalu menjadi ancaman setiap tahun," kata Suharyanto. Penguatan sistem mitigasi dan kesiapsiagaan dini harus segera direalisasikan sebagai langkah utama untuk mengurangi risiko fatalitas saat bencana terjadi. Program penguatan mitigasi daerah ini sangat sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan tata negara yang tangguh terhadap bencana. Suharyanto menegaskan bahwa agenda penanggulangan bencana kini telah resmi ditetapkan menjadi bagian integral dari program prioritas strategis pemerintah pusat. Belajar dari pengalaman berbagai kejadian masa lalu dinilai sangat krusial agar proses penanganan krisis di masa depan dapat berjalan jauh lebih efektif. Pemahaman masyarakat akan sistem manajemen peringatan dini dan tanda bahaya juga harus terus diperkuat melalui sosialisasi rutin tanpa henti. Masyarakat di kawasan rawan harus benar-benar dilatih agar mengetahui langkah evakuasi mandiri yang tepat untuk mencegah jatuhnya korban jiwa fatal. (*Red)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK