Menteri ESDM Sebut Perizinan Hilirisasi Bauksit Rusal Hampir Final
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut perizinan proyek hilirisasi bauksit Rusal menjadi alumina di Kalimantan hampir memasuki tahap final.
Faktakalbar.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap perkembangan rencana proyek hilirisasi bauksit yang akan digarap perusahaan asal Rusia, Rusal, di Kalimantan.
Bahlil menyebut proses perizinan proyek pengolahan bauksit menjadi alumina tersebut kini hampir memasuki tahap final.
Pernyataan itu disampaikan Bahlil di Jakarta pada Jumat. Menurutnya, pemerintah tengah berkolaborasi dalam pengembangan proyek tersebut, sementara Rusal akan menggandeng pelaku usaha dalam negeri.
Perizinan Proyek Rusal Hampir Final
Bahlil mengatakan proyek tersebut akan mengolah bauksit menjadi alumina dan dibangun di wilayah Kalimantan.
Meski proses perizinan disebut hampir selesai, pemerintah belum mengungkap secara rinci siapa mitra domestik Rusal maupun nilai investasi yang akan ditanamkan dalam proyek tersebut.
Bahlil menjelaskan studi kelayakan atau feasibility study (FS) masih harus diselesaikan sebelum pemerintah dapat memaparkan nilai investasi proyek.
Masuk dalam Penguatan Hilirisasi Mineral
Rencana investasi Rusal sebelumnya disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, pada 3 September 2026.
Saat itu, Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia bekerja sama dengan Rusal di bidang pengolahan pertambangan. Perusahaan Rusia tersebut disebut akan masuk ke Indonesia dalam skala besar untuk mengembangkan fasilitas pengolahan bersama kelompok usaha Indonesia.
Rencana tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk memperkuat hilirisasi mineral di dalam negeri. Melalui hilirisasi, pemerintah menargetkan peningkatan nilai tambah komoditas mineral sebelum dipasarkan.
Hilirisasi Bauksit Jadi Salah Satu Prioritas
Kementerian ESDM mencatat pemerintah menetapkan 18 proyek hilirisasi sebagai prioritas nasional pada 2026 dengan total nilai investasi sekitar Rp618 triliun.
Bauksit dan nikel termasuk komoditas strategis yang masuk dalam proyek-proyek tersebut.
Indonesia sendiri telah memiliki Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan kapasitas produksi mencapai 1 juta ton alumina per tahun.
Fasilitas tersebut menjadi bagian dari rantai hilirisasi bauksit nasional. Alumina yang dihasilkan nantinya digunakan sebagai bahan baku dalam produksi aluminium.
Investasi Hilirisasi Bauksit Meningkat
Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menunjukkan realisasi investasi hilirisasi bauksit pada kuartal II 2026 mencapai Rp40,1 triliun.
Angka tersebut meningkat 193 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang tercatat Rp13,7 triliun.
Pada periode tersebut, bauksit menjadi komoditas dengan realisasi investasi hilirisasi terbesar, mengungguli nikel yang mencapai Rp29,4 triliun dan tembaga sebesar Rp16,7 triliun.
Secara keseluruhan, realisasi investasi hilirisasi pada kuartal II 2026 mencapai Rp152,7 triliun atau sekitar 29,8 persen dari total investasi nasional sebesar Rp511,8 triliun.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.