Pascahujan Titik Panas Kembali Naik, Ancaman Kabut Asap Sanggau Mengintai
Faktakalbar.id - Kabut asap di Kabupaten Sanggau diprediksi berpotensi memburuk seiring melonjaknya kembali titik panas pascahujan yang sempat turun di wilayah Kalimantan Barat pada Senin. Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Karhutla Kabupaten Sangg…
Faktakalbar.id - Kabut asap di Kabupaten Sanggau diprediksi berpotensi memburuk seiring melonjaknya kembali titik panas pascahujan yang sempat turun di wilayah Kalimantan Barat pada Senin.
Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Karhutla Kabupaten Sanggau mencatat titik panas sempat menyusut menjadi dua titik usai hujan turun pada Sabtu lalu.
Namun, jumlah titik panas kembali melonjak tajam hingga mencapai 36 titik pada Minggu malam pukul 23.59 WIB.
Kepala Sekretariat Satgas Penanggulangan Bencana Karhutla Kabupaten Sanggau, Didit Richardi, mengonfirmasi lonjakan signifikan jumlah titik panas tersebut usai menggelar rapat evaluasi.
“Semenjak hujan Sabtu dini hari kemarin, titik hotspot/panas sempat turun menjadi två titik, dan pada Minggu 6 September 2026 pukul 23.59 WIB meningkatkan lagi menjadi 36 titik,” kata Didit.
Kekhawatiran memburuknya kualitas udara makin meningkat mengingat terdapat ratusan hektare lahan pertanian yang belum dibuka oleh para peladang setempat.
Data terverifikasi mencatat sedikitnya 407,5 hektare area perladangan yang tersebar di delapan kecamatan berpotensi dibuka dengan metode pembakaran.
Luas area tersebut diperkirakan bisa meluas jika memperhitungkan aktivitas pembukaan lahan oleh para peladang pribadi di luar pendataan PPL.
“Yang kami khawatirkan kondisi ini tidak akan melandai dan berpotensi terus meningkat seiring adanya data delapan Kecamatan masih akan membuka lahan dengan cara membakar dengan luas lahan yang terverifikasi 407,5 hektare, di luar itu kemungkinan lebih besar, termasuk peladang pribadi, karena data ini berada di bawah kendali PPL kita,” ungkapnya.
Kondisi cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino turut memicu meluasnya penyebaran titik api di wilayah pedalaman Sanggau.
Puncak fenomena cuaca kering tersebut diprediksi bertahan hingga Oktober sebelum perlahan melandai menuju akhir tahun 2026.
Peran aktif para tokoh lokal dan pemuka masyarakat sangat dibutuhkan untuk meredam potensi pembakaran lahan secara masif di tingkat desa.
Masyarakat mengimbau agar para peladang menunda sementara waktu aktivitas pembakaran lahan hingga kondisi cuaca kembali normal.
“Ia berharap kepada tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh agama di masing-masing wilayah untuk memberikan edukasi kepada masyarakatnya agar menunda pembukaan lahan dengan cara membakar di saat El Nino seperti saat ini,” pungkasnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.