Potensi Udang Rebon Singkawang dan Peluang Ekonomi Warga
Faktakalbar.id - Udang rebon di Singkawang, Kalimantan Barat, didorong untuk tidak hanya dijual sebagai hasil laut mentah, tetapi dikembangkan menjadi berbagai produk olahan bernilai tambah.
Faktakalbar.id - Udang rebon di Singkawang, Kalimantan Barat, didorong untuk tidak hanya dijual sebagai hasil laut mentah, tetapi dikembangkan menjadi berbagai produk olahan bernilai tambah.
Potensi tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Panen Raya Udang Rebon dan Pesta Rakyat di kawasan wisata Teluk Karang Sedau, Sabtu (15/8/2026).
Udang rebon selama ini dapat diolah menjadi sejumlah produk pangan seperti terasi, cencalok, kerupuk dan berbagai olahan lainnya.
Pengembangan produk olahan dinilai dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat yang menggantungkan pendapatan dari hasil laut.
Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie mengatakan, potensi ekonomi dari udang rebon tidak seharusnya hanya dilihat dari ukuran komoditas tersebut.
“Hari ini bukan sekadar acara panen raya. Bagi saya, momentum ini merupakan gambaran nyata tentang potensi ekonomi masyarakat yang tumbuh dari kekayaan alam dan kerja keras masyarakat itu sendiri,” kata Tjhai Chui Mie.
Menurutnya, udang rebon dapat menjadi bahan baku untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Udang rebon bukan hanya hasil tangkapan atau hasil panen, tetapi merupakan bahan baku ekonomi masyarakat yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan bahkan menjadi produk unggulan daerah,” ujarnya.
Pengolahan hasil laut di tingkat masyarakat menjadi salah satu hal yang ditekankan dalam pengembangan komoditas tersebut.
Masyarakat diharapkan dapat mengembangkan produk dengan kemasan yang lebih baik, memiliki merek sendiri dan memenuhi standar kualitas.
Langkah tersebut dinilai dapat memperluas peluang pemasaran produk olahan udang rebon di luar wilayah Singkawang.
“Bayangkan, dari hasil laut yang sederhana, kita dapat menciptakan produk kemasan yang menarik, memiliki merek sendiri, memiliki standar kualitas, dipasarkan secara lebih luas, bahkan suatu saat dapat menjadi oleh-oleh khas daerah dan menembus pasar di luar daerah,” katanya.
Pengembangan komoditas tersebut juga berkaitan dengan upaya meningkatkan nilai ekonomi yang diterima masyarakat dari hasil laut.
Dengan pengolahan lebih lanjut, hasil tangkapan tidak berhenti sebagai bahan mentah yang dijual langsung kepada pembeli.
Tjhai Chui Mie menyebut pengembangan udang rebon sebagai bagian dari ekonomi kerakyatan yang melibatkan masyarakat dari proses produksi hingga pemasaran.
“Masyarakat menangkap, masyarakat mengolah, masyarakat mendapatkan nilai tambah, dan masyarakat pula yang menikmati hasilnya,” ujarnya.
Panen raya tersebut menjadi salah satu momentum untuk memperkenalkan potensi udang rebon sekaligus mendorong pengembangan produk pangan berbasis sumber daya lokal.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.