Waspada DBD Singkawang, BPBD Ingatkan Potensi Hujan hingga Awal Desember
Faktakalbar.id, SINGKAWANG
– Kota Singkawang mencatatkan lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tertinggi di wilayah Kalimantan Barat.
Hingga Kamis, (27/11/2025), tercatat sebanyak 236 kasus dengan satu pasien dilaporkan meninggal dunia.
Tren kenaikan ini berpotensi terus terjadi seiring dengan kondisi cuaca basah yang melanda wilayah tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Singkawang, Achmad Hardin menyebutkan bahwa lonjakan kasus mulai terdeteksi sejak Oktober.
Baca Juga:
Cegah Penyebaran DBD, Lintas Sektor di Tayan Hilir Gelar Aksi Fogging Terpadu
Menurutnya, faktor utama pemicu perkembangbiakan nyamuk
Aedes aegypti
adalah peralihan cuaca dan kondisi lingkungan yang kurang bersih.
"DBD ini sulit dihentikan jika lingkungan tidak dijaga. Yang paling penting adalah kebersihan dan pemberantasan sarang nyamuk di seluruh tempat penampungan air," ujar Hardin, Jumat (28/11/2025).
Peringatan Dinas Kesehatan ini selaras dengan data pemantauan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kalimantan Barat.
Berdasarkan laporan harian per Sabtu (29/11/2025), wilayah Kota Singkawang terpantau mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang dalam 24 jam terakhir.
BPBD Kalbar juga mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan dengan
intensitas
sedang hingga lebat yang diprediksi masih akan terjadi di sebagian wilayah Kalbar mulai 29 November hingga 5 Desember 2025.
Kondisi curah hujan yang terus-menerus ini dikhawatirkan akan menambah titik-titik genangan air yang menjadi sarang ideal bagi nyamuk pembawa virus dengue.
Menyikapi hal ini, Hardin menegaskan bahwa Pemerintah Kota Singkawang terus menggalakkan
pemberantasan
jentik. Ia meluruskan anggapan masyarakat bahwa
fogging
adalah solusi utama.
"Tanpa dibunuh pun, nyamuk dewasa akan mati sendiri karena usianya hanya sekitar 10 hari. Yang harus dibasmi adalah telurnya di tempat penampungan air karena bisa bertahan berbulan-bulan," jelasnya.
Hardin menambahkan, jika
fogging
harus dilakukan, prosedurnya wajib menyeluruh dalam radius 100 meter agar nyamuk tidak sekadar berpindah tempat. Ia juga menyoroti pentingnya kebersihan di lingkungan pendidikan.
"Banyak pasien DBD adalah siswa sekolah. Nyamuk aktif di siang hari saat anak-anak belajar. Jadi, pemberantasan sarang nyamuk di sekolah sangat penting," tegasnya.
Baca Juga:
Waspada! Ini Ciri-Ciri DBD yang Seringkali Muncul Tanpa Disadari
(*Mira)
Tag:
#cuaca ekstrem Kalbar
#demam berdarah
#pemberantasan sarang nyamuk
#DBD Singkawang
#BPBD Kalimantan Barat
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.