faktakalbar

Ambisi Vs Trauma: Jepang Nekat Hidupkan 'Raksasa Nuklir' Kashiwazaki-Kariwa Meski Diprotes Warga

Penulis: Redaksi Thursday, 22 January 2026 📖 2 menit
Ambisi Vs Trauma: Jepang Nekat Hidupkan 'Raksasa Nuklir' Kashiwazaki-Kariwa Meski Diprotes Warga
Faktakalbar.id, INTERNASIONAL – Babak baru ketegangan energi dimulai di Jepang. Pemerintah Negeri Sakura resmi mengaktifkan kembali Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Kashiwazaki-Kariw PLTN terbesar di dunia pada Rabu (21/1/2026). Langkah ini diambil lebih dari satu dekade setelah bencana Fukushima Daiichi yang memicu trauma mendalam bagi publik Jepang. Keputusan operator Tokyo Electric Power Company (TEPCO) untuk mencabut batang kendali dan memulai reaktor disetujui setelah lampu hijau dari Gubernur Prefektur Niigata bulan lalu. Namun, di lapangan, kebijakan ini disambut dingin, bahkan perlawanan terbuka dari masyarakat lokal. Baca Juga:  5 Fakta Borneo Shinbun, Koran Propaganda Jepang di Kalimantan Barat Luka Lama Belum Kering Di tengah suhu beku, puluhan warga lansia menggelar unjuk rasa di gerbang pembangkit. Mereka menyuarakan ketakutan akan terulangnya mimpi buruk 2011. Bagi mereka, mengaktifkan kembali reaktor di bawah kendali TEPCO operator yang sama dengan PLTN Fukushima yang meleleh adalah sebuah pertaruhan nyawa. "Hampir 15 tahun setelah bencana, situasi di Fukushima masih belum terkendali, dan TEPCO ingin menghidupkan kembali pembangkit? Bagi saya, itu sama sekali tidak dapat diterima," ujar Keisuke Abe (81), salah satu demonstran, dengan nada geram. Survei lokal pada September lalu mencatat fakta menohok : 60 persen warga menentang pengaktifan kembali PLTN ini, jauh melampaui 37 persen yang mendukung. Isu keselamatan menjadi sorotan utama, mengingat lokasi PLTN yang berada di zona patahan seismik aktif dan rekam jejak TEPCO yang sempat tersandung skandal pemalsuan data keamanan. Alasan Klasik: Demi Listrik Tokyo Pemerintah Jepang, di bawah Perdana Menteri Sanae Takaichi, berdalih langkah ini krusial untuk memenuhi target netralitas karbon 2050 dan menopang kebutuhan energi raksasa bagi perkembangan kecerdasan buatan ( Artificial Intelligence ). Jepang yang miskin sumber daya alam ingin memangkas ketergantungan pada impor bahan bakar fosil yang saat ini masih menyuplai hampir 70 persen listrik negara tersebut. Namun, argumen ini justru mempertebal sentimen ketidakadilan bagi warga Niigata. Mereka merasa dijadikan "tumbal" risiko demi menerangi gemerlap kota metropolitan Tokyo. "Ini adalah listrik untuk Tokyo yang dihasilkan di Kashiwazaki, jadi mengapa orang-orang di sini harus dihadapkan pada risiko? Itu tidak masuk akal," protes Yumiko Abe (73), warga setempat. Kini, "raksasa tidur" itu telah bangun. Jepang bertaruh besar bahwa tembok tsunami setinggi 15 meter dan sistem keamanan baru mampu menjinakkan potensi bencana. Namun bagi warga Kashiwazaki, setiap getaran tanah kini akan terasa jauh lebih menakutkan dari sebelumnya. Baca Juga:  Jepang dan UEA Jadi Destinasi Liburan Teraman Asia 2026 (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK