faktakalbar

Antara Algoritma dan Etika: Menakar Relevansi Media di Era Big Data

Penulis: Redaksi Sunday, 01 February 2026 📖 2 menit
Antara Algoritma dan Etika: Menakar Relevansi Media di Era Big Data
Faktakalbar.id, NASIONAL — Industri media kini berada di persimpangan jalan antara mempertahankan naluri redaksional konvensional atau menyerah sepenuhnya pada kendali algoritma. Isu krusial ini mengemuka dalam diskusi "Quantum Age, Big Data, dan Masa Depan Industri Media" yang digelar Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bersama Deep Intelligence Research (DIR) di Jakarta, Jumat (30/1/2026). Pakar manajemen, Rhenald Kasali, menegaskan bahwa data bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama bagi siapa pun yang ingin memenangi pertarungan di era modern. Mengutip Yuval Noah Harari, ia menyebut data sebagai “the new oil” yang menentukan arah kebijakan, baik di sektor bisnis maupun pemerintahan. Baca Juga:  20 Media Massa di Kalbar Ikuti Coaching Clinic Literasi KIP, Ini Poin Pentingnya “Dunia bisnis, media, siapa pun kita saat ini sangat membutuhkan data. Pemerintah kalau mau make decision juga harus lihat data,” ujar Rhenald. Melampaui Angka: Membaca Emosi Publik Namun, Rhenald memberikan catatan kritis agar pelaku media tidak terjebak pada pembacaan data yang dangkal. Menurutnya, tren dan kuantitas percakapan di media sosial sering kali menipu jika tidak dibarengi dengan kemampuan membaca emosi publik. “Dalam data percakapan media sosial, ada emosi yang harus dibaca. Ada emoticon . Di situlah kita bisa memahami perasaan publik yang sesungguhnya,” tegas pendiri DIR tersebut. Baginya, pemanfaatan data yang tepat harusnya menjadi alat untuk memperteguh peran pers di tengah krisis kepercayaan dan banjir informasi, bukan sekadar alat pengejar trafik. Tantangan Etika dan Manipulasi Informasi Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua Umum AMSI, Suwarjono, melihat transformasi teknologi telah mengubah drastis anatomi produksi hingga konsumsi konten. Ia mengingatkan bahwa di balik kecanggihan big data , terdapat risiko besar berupa manipulasi informasi dan tantangan etika yang mengintai. "Pendekatan bisnis media berbasis data bukan sekadar alat bertahan, melainkan prasyarat agar media tetap berpihak pada kepentingan publik di tengah tantangan etika, kepercayaan, dan risiko manipulasi informasi di era digital,” ungkap Suwarjono yang juga CEO Suara.com. Diskusi ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman ( MoU ) antara CEO DIR, Adi Prasetya, dan Suwarjono. Kolaborasi ini diharapkan mampu menjembatani kebutuhan media akan data riset yang valid untuk diseminasi publik sekaligus peluang bisnis baru seperti media monitoring . Meski kolaborasi ini menjanjikan efisiensi, tantangan sesungguhnya bagi media anggota AMSI adalah bagaimana menjaga independensi redaksi agar tidak didikte oleh angka-angka riset, melainkan menggunakan data tersebut untuk memperkuat kualitas jurnalisme yang berpihak pada publik. Baca Juga:  Bupati Ketapang Apresiasi Mediasi Tindak Pidana Ringan oleh Polsek Manis Mata (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK