faktakalbar

Dilarang Pakai Pangkalan Militer, Trump Ancam Putus Hubungan Dagang dengan Spanyol

Penulis: Redaksi Thursday, 05 March 2026 📖 2 menit
Dilarang Pakai Pangkalan Militer, Trump Ancam Putus Hubungan Dagang dengan Spanyol
Faktakalbar.id, INTERNASIONAL - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka menyatakan ancaman akan putus hubungan dagang dengan Spanyol. Pernyataan tegas bernada sanksi ini dilontarkan Trump usai pemerintah Spanyol menolak memberikan izin kepada angkatan bersenjata AS untuk menggunakan fasilitas pangkalan militernya dalam melancarkan serangan terhadap Iran pada Selasa (3/3/2026). Baca Juga: Betapa Mudahnya Amerika Menculik dan Membunuh Pemimpin Suatu Negara Ancaman putus hubungan dagang secara menyeluruh di sektor ekonomi tersebut disampaikan langsung oleh Trump di hadapan para pewarta. Sikap keras ini diungkapkan saat ia berada di Ruang Oval, Gedung Putih, bertepatan dengan agenda penerimaan kunjungan resmi dari Kanselir Jerman Friedrich Merz. "Kami akan memutus seluruh perdagangan dengan Spanyol. Kami tak ingin berurusan lagi dengan Spanyol," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih saat menerima Kanselir Jerman Friedrich Merz, Selasa (3/3). Ketegangan diplomatik ini bermula dari sikap resmi yang ditunjukkan oleh pemerintah Spanyol pada hari Senin sebelumnya. Spanyol secara lugas menegaskan bahwa AS tidak diizinkan menggunakan pangkalan militer yang berada di wilayah mereka untuk memfasilitasi serangan ke Iran. Selain itu, pemerintah setempat juga menegaskan bahwa mereka memegang kewenangan dan kedaulatan penuh atas semua fasilitas pertahanan yang ada di negaranya. "Pangkalan di bawah kedaulatan Spanyol tak akan digunakan untuk hal di luar perjanjian dengan Amerika Serikat atau yang tidak sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa," kata Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares dalam wawancara dengan El Diario. Albares lebih lanjut memaparkan bahwa meskipun pangkalan udara tersebut berstatus digunakan secara bersama oleh kedua negara, otoritas tertinggi akan tetap berada di tangan pemerintah Spanyol. Menteri Luar Negeri tersebut juga menepis klaim bahwa AS telah memberikan pemberitahuan sebelumnya terkait operasi ini. Ia secara gamblang mengkritik serangan terbaru ke wilayah Iran tersebut sebagai murni tindakan sepihak yang berada di luar kerangka aksi kolektif internasional. Selain meluapkan kekesalannya kepada pihak Spanyol, Presiden AS tersebut juga mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap langkah pemerintah Inggris. Trump menyoroti keputusan politik Inggris yang mengalihkan kedaulatan Kepulauan Chagos kepada negara Mauritius. Baca Juga: Sebut Terinspirasi Rencana Israel, Menlu AS Ungkap Alasan Serang Iran Lebih Dulu Pengalihan kedaulatan tersebut diiringi dengan imbalan hak sewa selama 99 tahun untuk tetap dapat mengoperasikan pangkalan militer gabungan antara AS dan Inggris di Diego Garcia. Pangkalan militer yang terletak di pulau terbesar Kepulauan Chagos itu sejatinya memiliki peran yang amat vital dalam mendukung dan menjaga kelancaran berbagai operasi militer AS di kawasan Timur Tengah selama beberapa dekade terakhir. Meskipun tidak secara gamblang menyebut nama Diego Garcia dalam rentetan kritiknya, Trump menilai Inggris telah bersikap sangat tidak kooperatif di saat militer AS bersiap menyerang Iran, serta menyebut posisi Inggris tersebut sangat mengejutkan. "Mereka merusak hubungan. Memalukan sekali," katanya. Terkait dampak logistik di lapangan, Trump membeberkan bahwa pihak militer AS sampai harus memerlukan tambahan waktu yang signifikan, yakni tiga hingga empat hari, hanya untuk memastikan ketersediaan lokasi pendaratan yang aman di wilayah Diego Garcia. "Akan lebih mudah jika kami bisa mendarat di sana dibanding harus terbang lagi selama beberapa jam. Jadi, kami sangat terkejut. Yang kami hadapi saat ini bukan Winston Churchill," kata Trump, membandingkan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dengan pemimpin Inggris era Perang Dunia II. (*Red)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK