faktakalbar

Di Balik Viralnya Patung Macan Putih Kediri: Kisah Mimpi Seniman, Legenda Desa, dan Rezeki bagi Warga

Penulis: Redaksi Sunday, 04 January 2026 📖 2 menit
Di Balik Viralnya Patung Macan Putih Kediri: Kisah Mimpi Seniman, Legenda Desa, dan Rezeki bagi Warga
Faktakalbar.id, KEDIRI – Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, mendadak ramai menjadi perbincangan publik dalam beberapa hari terakhir. Hal ini bermula setelah sebuah patung Macan Putih yang berdiri di desa tersebut viral di berbagai platform media sosial. Monumen ini menjadi sorotan bukan karena kemegahan ukurannya, melainkan karena bentuk visualnya yang dinilai unik oleh warganet. Baca Juga: Viral! Frustrasi Jalan Rusak Tak Diperbaiki, Kades Bonder Nekat Mandi Lumpur Foto dan video patung tersebut menyebar luas di TikTok dan Instagram, memancing beragam reaksi. Sebagian warganet memberikan komentar jenaka dengan membandingkan bentuk patung tersebut dengan zebra hingga kuda nil karena proporsinya yang tidak biasa. Kendati demikian, keunikan tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri. Warga dari berbagai daerah, termasuk Surabaya dan Malang, rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk melihat langsung dan berswafoto di depan ikon desa tersebut. Filosofi dan Proses Pembuatan Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, menjelaskan bahwa keberadaan monumen ini bukan sekadar karya seni acak, melainkan hasil musyawarah desa yang melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemuda. "Macan Putih dipercaya sebagai simbol penjaga atau danyang yang melindungi desa dari mara bahaya," ungkap Safi’i menjelaskan legenda lokal yang mendasarinya. Proses pengerjaan fisik dilakukan oleh Suwari, seorang seniman lokal yang telah berkecimpung dalam dunia patung sejak era 1980-an. Suwari mengaku mendapatkan inspirasi dari mimpi sebelum memulai pengerjaan patung yang memakan waktu sekitar 19 hari tersebut. Anggaran Pribadi Kepala Desa Di tengah viralnya patung tersebut, fakta mengenai pendanaan turut terungkap. Kepala Desa menegaskan bahwa pembangunan ini tidak membebani anggaran pemerintah maupun dana desa. "Seluruh biaya pembangunan patung Macan Putih bersumber dari dana pribadi saya sekitar Rp3,5 juta, dengan rincian biaya tukang sekitar Rp2 juta dan material sekitar Rp1,5 juta," tegas Safi’i. Penjelasan ini membuat publik lebih apresiatif, meskipun kritik terkait estetika tetap ada. Pemerintah desa menyambut masukan tersebut dengan terbuka dan merencanakan perbaikan desain serta penataan ulang agar bentuk monumen lebih mendekati gambaran awal. Baca Juga: Efek Kasus Suap Bupati, KPK Kini Dalami Proyek Monumen Reog Ponorogo Dampak Ekonomi Warga Terlepas dari kontroversi bentuknya, kehadiran patung Macan Putih terbukti memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Lonjakan pengunjung membuka peluang usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) setempat. Warung kopi, kuliner lokal, hingga penyedia jasa foto di sekitar lokasi mulai merasakan peningkatan pendapatan. Fenomena ini membuktikan bahwa interaksi antara budaya lokal dan kekuatan media sosial mampu menciptakan destinasi wisata alternatif yang menguntungkan masyarakat desa. (*Red)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK