Dikenal Vokal Tolak Geotermal, Kematian Aktivis Lingkungan Vian Ruma Dianggap Tak Wajar
Faktakalbar.id, NAGEKO -
Kematian aktivis lingkungan Flores,
Rudolfus Oktavianus Ruma (Vian)
, yang ditemukan pada Jumat (5/9/2025) di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, menyisakan tanda tanya besar di kalangan pegiat lingkungan.
Mereka menilai kematian Vian tidak wajar dan mendesak adanya investigasi serius dari kepolisian.
Baca Juga:
Keluarga Minta Keadilan: Kejanggalan di Balik Kematian Aktivis Vian Ruma di Nagekeo
Semasa hidup, Vian dikenal sebagai salah satu suara vokal yang menolak rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga
panas bumi (
geotermal
)
di Flores.
Efraim Mbomba Reda
dari Koalisi Kelompok Orang Muda untuk Perubahan Iklim (KOPI) menggambarkan Vian sebagai pegiat yang sangat intens mendorong koalisi untuk menyatakan sikap tegas menolak
geotermal
.
Sikap kritis Vian inilah yang membuat rekan-rekannya meragukan ia meninggal karena bunuh diri.
"Kami melihat sesuatu yang tidak wajar. Ada kejanggalan dalam kematian Vian," kata Efraim.
Senada dengan itu, Koordinator Aliansi Terlibat Bersama Korban
Geothermal
Flores,
Felix Baghi
, juga menyebut
"kematian Vian Ruma tidak wajar," ungkap Felix
Para aktivis mendesak kepolisian untuk bekerja cepat dan transparan.
Mereka khawatir jika kasus ini tidak terselesaikan, akan timbul
asumsi
liar di masyarakat.
"Publik bisa mencari jalannya sendiri jika kematian seperti ini tidak diselesaikan," tegas Efraim.
Kematian Vian terjadi di tengah kebijakan pemerintah pusat yang menetapkan Flores sebagai 'pulau panas bumi' sejak 2017, dengan 16 titik potensial yang tersebar di seluruh pulau.
Hingga kini, Kapolres Nagekeo, Rachmad Muchamad Salihi, menyatakan pihaknya belum dapat memastikan penyebab kematian Vian.
Baca Juga:
7 Jurus Jitu Tetap Bugar di Musim Hujan, dari Jaga Imun hingga Lawan Nyamuk DBD
(*Mira)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.