faktakalbar

Dikepung Sampah dan Sulit Air Bersih, Derita Lanjutan Warga Sibolga Pascabanjir

Penulis: Redaksi Monday, 08 December 2025 📖 2 menit
Dikepung Sampah dan Sulit Air Bersih, Derita Lanjutan Warga Sibolga Pascabanjir
Faktakalbar.id, NASIONAL – Air bah mungkin sudah surut di beberapa titik, namun jejak kehancuran yang ditinggalkannya kini menjelma menjadi ancaman baru. Di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pemulihan pascabencana berjalan tertatih di tengah krisis air bersih dan gunungan sampah yang membusuk. Bagi Rekson Charles Pardede dan istrinya, Rismawati Samosir, selamat dari banjir dan longsor sepuluh hari lalu hanyalah awal dari perjuangan panjang lainnya. Pasangan suami istri ini kini harus menghadapi musuh tak kasat mata: penyakit yang muncul akibat sanitasi buruk. Baca Juga:  Penanganan Darurat Bencana Sumut Dipercepat, 4,4 Ton Logistik Tambahan Diberangkatkan Di depan rumah mereka, tumpukan sampah sisa banjir menggunung setinggi satu meter. Sampah-sampah itu, yang sebagian besar terbawa arus dari permukiman lain, kini mulai menebar aroma menyengat dan mengundang lalat. Sementara itu, akses terhadap air bersih menjadi barang langka, memaksa warga berhemat di tengah lingkungan yang kotor. "Memang sebelumnya sampah kita ada di sini, cuma semenjak banjir ini, sampah segini banyak. Sampai hari ini belum ada diambil," ujar Rekson dengan nada cemas, Sabtu (6/12/2025). Kecemasan itu bukan tanpa alasan. Buah hati mereka yang baru berusia 11 bulan mulai menunjukkan gejala sakit akibat lingkungan yang tidak higienis . "Khawatir, kalau ada sampah begini pengaruh juga sama kesehatan anak bayi kita. Sampai demam dua hari itu anak saya," tambah Rismawati. Lonjakan Pasien di Tengah Krisis Sanitasi Kisah Rekson dan Rismawati adalah potret kecil dari krisis kesehatan yang kini mengintai tiga provinsi terdampak bencana di Sumatera. Kementerian Kesehatan mencatat lonjakan kasus penyakit menular sepanjang 25 November hingga 2 Desember 2025. Di Tapanuli Tengah, Dinas Kesehatan setempat melaporkan peningkatan pasien dengan keluhan batuk, flu, demam, dan gatal-gatal hingga 400 persen. Lonjakan ini berkaitan erat dengan minimnya ketersediaan air bersih untuk keperluan mandi dan mencuci, serta debu tebal sisa lumpur kering yang menyelimuti kota. Jalanan Kota Sibolga kini tak lagi sama. Roda kendaraan yang melintas menggilas lumpur kering, menerbangkan debu tebal yang menempel di wajah para pejalan kaki. Tanpa masker yang memadai, warga terpaksa menghirup udara bercampur partikel sisa bencana setiap hari. Keterbatasan Petugas Kebersihan Upaya pembersihan bukannya tidak dilakukan. Beberapa kilometer dari kediaman Rekson, belasan perempuan dengan masker seadanya terlihat sibuk mengangkut sampah ke dalam truk. Namun, skala kehancuran yang masif tak sebanding dengan jumlah tenaga yang ada. Aditya Wardana Cambak, pengawas lapangan dari Dinas Lingkungan Hidup Tapanuli Tengah, mengakui kewalahan. Banyak petugas kebersihan yang biasanya bekerja, kini juga berstatus sebagai korban bencana. "Sebagian anggota kita belum ada yang datang, ada kena bencana. Sebagian yang ada di sini cuma bisa mengerjakan sampah-sampah di Tapteng ini," jelasnya di tengah hiruk-pikuk alat berat. Kini, warga hanya bisa menunggu dan berharap, pasokan air bersih segera pulih dan tumpukan sampah di depan rumah segera diangkut sebelum kondisi kesehatan keluarga mereka semakin memburuk. Baca Juga:  Kelapa Sawit Tidak Dapat Menggantikan Hutan: Dampak Deforestasi pada Daur Air dan Banjir Sumatera

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK