Gandeng Akademisi, BNPB Sebar Mahasiswa Unand Validasi Data Kerusakan di 13 Daerah
Faktakalbar.id, PADANG –
Proses penanganan dampak bencana hidrometeorologi basah di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) terus digencarkan.
Memasuki tahap pemulihan yang dimulai sejak 22 Desember 2025 lalu, upaya percepatan kini melibatkan kalangan akademisi.
Baca Juga:
Kejar Target Sekolah, BNPB Kebut 584 Huntara dan Trauma Healing di Agam
Sebanyak 400 mahasiswa
Universitas Andalas
(Unand) resmi dikerahkan untuk bergabung dalam tim verifikasi rumah rusak akibat banjir dan longsor.
Para mahasiswa yang terlibat merupakan peserta program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Pelepasan tim ini dilakukan pada Jumat (2/1).
Kolaborasi Pentaheliks Penanganan Bencana
Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (
BNPB
), Rustian, menekankan pentingnya kolaborasi pentaheliks yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, media, dan akademisi dalam penanggulangan bencana.
"Termasuk di dalamnya akademisi dan para pakar. Maka dari itu BNPB selalu bekerjasama dengan pakar dan mahasiswa yang ada di Indonesia khususnya di Sumbar untuk penanganan bencana seperti yang akan kita lakukan hari ini," jelas Rustian.
Para mahasiswa ini akan disebar ke 13 kabupaten/kota di Sumbar. Tugas utama mereka adalah mendata dan melakukan verifikasi rumah rusak milik warga.
Berdasarkan aturan BNPB, kerusakan dikategorikan menjadi tiga, yakni rusak ringan, sedang, dan rusak berat.
Sebelum terjun ke lapangan, mahasiswa telah mendapatkan pembekalan teknis mengenai format verifikasi.
Selama bertugas, mereka akan didampingi oleh Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung mulai Sabtu (3/1) hingga Rabu (7/1).
Baca Juga:
Percepat Pemulihan, BNPB dan Pemkab Agam Kebut Pembangunan Huntara dan Trauma Healing
Komitmen Akademisi dan Data Acuan Rekonstruksi
Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, menyambut baik pelibatan mahasiswanya dalam misi kemanusiaan ini. Ia menegaskan komitmen kampus sebagai mitra strategis pemerintah.
"Kami Universitas Andalas berkomitmen terus menerus menjadi mitra, untuk menjadi solusi dalam proses pemulihan ataupun dalam proses rekonstruksi pascabencana yang terjadi di negara kita," tutur Efa.
Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, menjelaskan bahwa data yang dikumpulkan mahasiswa sangat krusial. Data tersebut akan menjadi landasan kebijakan rehabilitasi dan rekonstruksi hunian warga.
"Ada 20 ribu lebih rumah rusak di Sumbar. Verifikasi tingkatan kerusakan, apakah rusak ringan, sedang, maupun berat ini penting untuk menjadi acuan dalam membangun hunian tetap nantinya," jelas Mahyeldi.
(*Red)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.