faktakalbar

Pasar Abaikan Gejolak Sanksi Rusia, Harga Minyak Jatuh Ditekan Oversupply

Penulis: Redaksi Tuesday, 11 November 2025 📖 1 menit
Pasar Abaikan Gejolak Sanksi Rusia, Harga Minyak Jatuh Ditekan Oversupply
Faktakalbar.id, NASIONAL - Harga minyak dunia kembali tergelincir pada perdagangan Selasa (11/11/25) pagi. Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan global (oversupply) yang menahan sentimen positif di pasar energi, Selasa (11/11/25). Baca Juga:   Produksi Batu Bara RI 2026 Turun, ESDM: 73 Persen Cadangan Kalori Rendah Berdasarkan data Refinitiv, pukul 09.55 WIB, harga minyak mentah Brent (LCOc1) melemah ke posisi US $63,88 per barel, turun 0,28% dari penutupan sebelumnya di US$ 64,06 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) (CLc1) juga terkoreksi 0,32% ke level US $59,94 per barel dari US$ 60,13 per barel. Pelemahan ini menandai penurunan kedua secara beruntun setelah sempat menguat di akhir pekan lalu. Menurut laporan Reuters , harga minyak sempat mendapat dukungan dari kabar bahwa penutupan sebagian kegiatan pemerintahan (shutdown) Amerika Serikat berpotensi berakhir pekan ini. Namun, harapan tersebut belum mampu menahan tekanan dari sisi suplai global yang terus meningkat. Dalam pertemuan terbarunya, OPEC+ sepakat menaikkan target produksi bulan Desember sebesar 137.000 barel per hari, meski kelompok produsen minyak itu menunda rencana penambahan produksi lebih lanjut pada kuartal pertama tahun depan. Di sisi lain, sentimen negatif juga muncul dari sanksi baru Amerika Serikat terhadap dua raksasa energi Rusia, Rosneft dan Lukoil. Baca Juga:   Harga Minyak Dunia Melonjak Drastis Pasca Sanksi Baru AS terhadap Rusia Lukoil bahkan telah menyatakan force majeure di salah satu ladang minyaknya di Irak, sementara pemerintah Bulgaria disebut bersiap mengambil alih kilang Burgas milik perusahaan tersebut. Sementara itu, di kawasan Asia, tekanan tambahan datang dari meningkatnya volume minyak yang disimpan di kapal tanker, yang dilaporkan melonjak dua kali lipat dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini mencerminkan lemahnya permintaan dari kilang independen di China akibat kuota impor yang terbatas, sementara sanksi Barat juga memperketat arus ekspor minyak Rusia ke China dan India. (ra)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK