Hubungan Diplomatik Memanas, Beijing Keluarkan Larangan Perjalanan ke Jepang Jelang Imlek
Faktakalbar.id, INTERNASIONAL –
Ketegangan diplomatik antara China dan Jepang kembali meningkat.
Pemerintah China secara resmi mengeluarkan imbauan keras kepada warganya untuk tidak melakukan perjalanan ke Jepang selama periode libur Tahun Baru Imlek, yang akan datang pada Februari 2026.
Departemen Urusan Konsuler Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa situasi keamanan publik di Jepang saat ini dinilai tidak kondusif bagi warga negara China.
Peringatan ini muncul menyusul klaim Beijing mengenai peningkatan insiden ilegal dan tindakan kriminal yang secara spesifik menargetkan warga negara mereka di Jepang.
Baca Juga:
Trump Buru Pajak Remitansi, Pekerja Migran Terpaksa Tinggalkan Uang Tunai demi Hindari Potongan 1%
"Baru-baru ini, keamanan publik di Jepang telah memburuk, dengan seringnya insiden tindakan ilegal dan kriminal yang menargetkan warga negara China," demikian bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China yang dirilis Senin (26/1/2026).
Dampak Sengketa Geopolitik
Larangan perjalanan ini tidak terlepas dari
friksi
politik yang menajam antara kedua negara dalam beberapa bulan terakhir.
Pemicu utamanya adalah pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, pada November 2025, yang mengisyaratkan bahwa Tokyo siap melakukan intervensi militer jika terjadi serangan terhadap Taiwan.
Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Beijing, yang kemudian merespons dengan serangkaian peringatan perjalanan.
Dampaknya langsung terasa pada sektor pariwisata.
Data menunjukkan jumlah wisatawan China ke Jepang anjlok sebesar 45 persen pada bulan lalu dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan total kunjungan turun menjadi sekitar 330.000 orang.
Padahal sebelumnya, wisatawan asal China mendominasi pasar pariwisata Jepang.
Dalam sembilan bulan pertama tahun 2025, tercatat hampir 7,5 juta warga China berkunjung ke Jepang, menyumbang seperempat dari total wisatawan asing.
Pada kuartal ketiga tahun 2025 saja, pengeluaran wisatawan China di Jepang mencapai nilai setara US$3,7 miliar, didorong oleh pelemahan mata uang Yen.
Selain isu keamanan dan politik, Kementerian Luar Negeri China juga menjadikan frekuensi gempa bumi di Jepang sebagai salah satu alasan tambahan bagi warganya untuk menunda kunjungan.
Libur Tahun Baru Imlek yang berlangsung selama sembilan hari di China biasanya menjadi puncak perjalanan internasional warganya. Namun, dengan adanya imbauan ini, arus wisatawan ke Jepang diprediksi akan terus mengalami penurunan
signifikan
.
Baca Juga:
Ambisi Vs Trauma: Jepang Nekat Hidupkan ‘Raksasa Nuklir’ Kashiwazaki-Kariwa Meski Diprotes Warga
(Mira)
Tag:
#Wisatawan China
#Sanae Takaichi
#Konflik China-Jepang
#Tahun Baru Imlek 2026
#Geopolitik Asia Timur
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.