Industri Sarang Burung Walet Menurun, PPSWN Minta Pemerintah Atasi Suspensi Ekspor ke China
Faktakalbar.id, NASIONAL –
Pembina Perkumpulan Petani Sarang Walet Nusantara (PPSWN), Benny Hutapea, menyampaikan keluhannya kepada
Presiden RI
, Prabowo Subianto, terkait menurunnya industri sarang burung walet nasional, khususnya untuk pasar ekspor ke China. Menurutnya, penurunan ini telah berlangsung selama enam tahun terakhir.
Benny mengungkapkan, penurunan ekspor sarang burung walet Indonesia ke China dipengaruhi oleh regulasi ketat yang tertuang dalam Protokol Perjanjian Perdagangan Sarang Burung Walet antara Indonesia dan China.
Baca Juga:
Indonesia Pimpin Produksi Sarang Burung Walet Dunia, Jepang Jadi Pasar Potensial
Salah satu aturan dalam perjanjian tersebut adalah pembatasan kadar nitrit di bawah 30 ppm dan kadar aluminium di bawah 100 ppm.
“Dalam enam tahun terakhir ini ekspor terus menurun. Hal ini karena regulasi dari perjanjian antara RI dan China yang membatasi kadar nitrit dan aluminium,” jelas Benny Suryo Sabath Hutapea, Minggu (10/8/2025).
Selain permasalahan regulasi, ia menyebut maraknya ekspor ilegal sarang walet menjadi penyebab lain anjloknya harga jual.
Untuk itu, pihaknya meminta agar pemerintah dan aparat penegak hukum (APH) menertibkan jalur perdagangan ilegal ini demi menjaga stabilitas pasar.
“Selain itu juga disebabkan oleh ekspor ilegal sarang burung walet, yang membuat harga jatuh drastis. Kami mohon aparat bisa menertibkan ekspor ilegal ini,” lanjut Benny.
Benny juga menyoroti dampak dari kebijakan
suspend
(penghentian sementara) yang dilakukan pemerintah China terhadap sembilan perusahaan eksportir walet dari Indonesia.
Baca Juga:
China Blokir Impor Ternak, Sarang Burung Walet Indonesia Tetap Jadi Primadona
Menurutnya, kebijakan ini membawa dampak besar bagi sektor industri tersebut.
“Kemudian juga adanya penghentian sementara atas 9 perusahaan eksportir sarang burung walet oleh pemerintah China. Ditambah dengan ekspor ilegal yang terjadi, dampaknya sangat terasa,” kata Benny.
Tak hanya berdampak pada sektor ekspor, Benny menyebut kondisi ini juga mengakibatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap puluhan ribu tenaga kerja terampil di sektor walet.
“Yang lebih parah lagi, karena turunnya ekspor, terjadi PHK. Puluhan ribu pekerja terampil di sektor walet kehilangan pekerjaan,” ucapnya.
PHK tersebut, lanjut Benny, memiliki efek domino terhadap kehidupan sosial ekonomi para pekerja dan keluarga mereka.
Daya beli menurun dan berdampak langsung pada sektor UMKM di sekitar tempat tinggal mereka.
“Efek dominonya adalah kepada keluarga-keluarga pekerja yang akhirnya kena PHK. Puluhan ribu pekerja tersebut adalah tulang punggung keluarga,” ujar Benny.
Dengan kondisi tersebut, Benny berharap pemerintah bisa lebih serius menangani persoalan ini.
Baca Juga:
Harga Sarang Walet Anjlok, Peternak di Kalbar Keluhkan Pembatasan Ekspor dan Kualitas Sarang Berjamur
Ia meminta agar pemerintah menyusun strategi yang tepat agar ekspor sarang walet bisa kembali berjalan lancar.
“Untuk itu kami dengan kerendahan hati memohon pihak Pemerintah lebih serius dalam mengatasi persoalan
suspend
tersebut. Bagaimana cara dan strateginya agar pengusaha sarang burung walet bisa ekspor kembali dengan lancar,” tutupnya.
(*Red)
Tag:
#Pemerintah Indonesia
#Industri Walet
#Ekspor Sarang Burung Walet
#Suspensi Ekspor ke China
#PPSWN
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.