Kekecewaan Peserta Gala Karya 2025: Panitia Dinilai Tak Profesional
Faktakalbar.id, JAKARTA
- Peserta
Liga Sepakbola Karyawan (Gala Karya)
2025 yang digelar di
Stadion Soemantri Brodjonegoro
, Jakarta, 5-12 Oktober 2025, mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap panitia penyelenggara.
Pasalnya, panitia dinilai tidak profesional dan tidak konsisten dalam menjalankan peraturan yang telah ditetapkan. Sabtu (11/10/25).
Baca Juga:
Atlet Bela Diri Kalbar Tiba, Siap Berlaga di PON
Beberapa pelatih dan tim manajemen dari
Bank Kalbar,
Beakuda Sambas,
Manokwari Selatan
, dan RPL Banten menilai, penyelenggaraan turnamen ini tidak profesional karena panitia tidak mampu mengambil keputusan tegas dan bahkan melanggar aturan permainan.
Kekecewaan ini bermula dari perubahan sistem pertandingan yang tiba-tiba. Menurut para pelatih, pada saat
technical meeting
pada Sabtu, 4 Oktober, panitia menetapkan peraturan bahwa pertandingan akan diadakan dengan sistem setengah kompetisi.
Tim yang menjadi juara grup seharusnya langsung lolos ke babak semifinal dan selanjutnya masuk babak final.
“Namun pada pelaksanaannya, setelah penyisihan grup, malah dilakukan lagi pertandingan babak perdelapan, karena adanya desakan dari peserta peraih runner up grup,”
ungkap beberapa pelatih sepakbola peserta tersebut.
Baca Juga:
Kinerja Bank Kalbar Meroket, Aset Tembus Rp26,57 Triliun Hingga September 2025
Keputusan untuk menggelar babak perdelapan final tersebut disetujui langsung oleh Ketua Penyelenggara Gala Karya, M Jaelani Saputra, dan Sekjen Penyelenggara, Ivan, atas desakan dari tim
runner up
grup.
“Ini sangat kita sayangkan. Karena ini merupakan pertandingan tingkat nasional dengan semangat fairplay, namun panitianya tidak profesional, tidak kompeten, dan tidak fair,”
kata para pelatih dan tim manajemen.
Menurut mereka, seharusnya panitia menjalankan aturan yang sudah ditetapkan sejak awal.
Perubahan aturan secara sepihak setelah fase grup selesai menimbulkan kecurigaan adanya "permainan yang tidak sehat".
"Tim kami yang seharusnya sudah keluar sebagai juara grup, kok bisanya dengan mudah diubah oleh panitia. Ini menimbulkan tanda tanya bagi kami, para pelatih dan peserta sepakbola,”
ucap salah satu pelatih.
Peserta turnamen juga mengeluhkan biaya yang tidak sedikit untuk memberangkatkan 21 orang pemain dan ofisial.
Mereka merasa keputusan panitia telah mengalahkan tim yang seharusnya berhak menang.
"Liga yang seharusnya profesional, karena digelar secara nasional, ternyata tak ubahnya seperti liga kampung saja,”
ungkapnya dengan nada kecewa.
Para pelatih dan tim manajemen meminta pihak berwenang untuk mengevaluasi penyelenggaraan turnamen ini.
(ra)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.