faktakalbar

Kepala Tim Robotika OpenAI Mundur Imbas Kesepakatan Kontroversial dengan Pentagon

Penulis: Redaksi Sunday, 08 March 2026 📖 2 menit
Kepala Tim Robotika OpenAI Mundur Imbas Kesepakatan Kontroversial dengan Pentagon
Faktakalbar.id, INTERNASIONAL - Kepala Tim Robotika OpenAI , Caitlin Kalinowski, resmi mengumumkan pengunduran dirinya pada Sabtu (7/3/2026). Langkah ini diambil menyusul kesepakatan kontroversial antara OpenAI dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) yang dinilai terburu-buru dan minim batasan yang jelas terkait penggunaan kecerdasan buatan untuk militer. Baca Juga: Mulai Sekarang, Langganan ChatGPT Kena Pajak 11 Persen Kalinowski, yang sebelumnya memimpin tim pengembangan kacamata realitas tertambah di Meta sebelum bergabung dengan OpenAI pada November 2024, menegaskan bahwa keputusannya murni didasarkan pada prinsip pribadi. Ia membantah pengunduran dirinya dilatarbelakangi oleh konflik dengan individu tertentu di dalam perusahaan. "AI memiliki peran penting dalam keamanan nasional. Tetapi pengawasan terhadap warga Amerika tanpa pengawasan yudisial dan otonomi mematikan tanpa otorisasi manusia adalah batasan yang seharusnya lebih dipertimbangkan daripada yang didapatkan," katanya. Melalui unggahan lanjutan di platform X, Kalinowski juga mengkritik proses pengambilan keputusan di internal perusahaan. "Untuk memperjelas, masalah saya adalah pengumuman ini dibuat terburu-buru tanpa adanya batasan yang jelas. Ini merupakan persoalan tata kelola yang utama. Kesepakatan atau pengumuman ini ini terlalu penting untuk dilakukan terburu-buru," katanya. Pihak OpenAI telah mengonfirmasi pengunduran diri Kepala Tim Robotika OpenAI tersebut. Dalam pernyataan resminya, perusahaan berdalih bahwa kemitraan dengan Pentagon justru membuka jalan bagi penerapan kecerdasan buatan (AI) yang aman di sektor militer. "Kami percaya kesepakatan kami dengan Pentagon menciptakan jalur yang layak untuk penggunaan AI yang bertanggung jawab dalam keamanan nasional sambil memperjelas batasan kami: tidak ada pengawasan domestik dan tidak ada senjata otonom," kata perusahaan. OpenAI juga menyatakan komitmennya untuk terus berdiskusi dengan karyawan, pemerintah, masyarakat sipil, dan komunitas global terkait masalah ini. Kesepakatan OpenAI dan Pentagon diumumkan lebih dari sepekan lalu, tepat setelah diskusi antara Pentagon dan perusahaan AI pesaing, Anthropic, menemui jalan buntu. Baca Juga: Fitur Baru ChatGPT Images Bisa Bikin Gambar Lebih Cepat Kegagalan tersebut terjadi karena Anthropic menuntut perlindungan ketat guna mencegah teknologinya dipakai untuk pengawasan domestik massal dan senjata otonom. Akibat penolakan tersebut, Pentagon menetapkan Anthropic sebagai risiko rantai pasokan, yang berujung pada rencana gugatan hukum dari pihak Anthropic. Memanfaatkan momentum tersebut, OpenAI segera mengumumkan kontrak yang mengizinkan teknologinya digunakan di lingkungan rahasia pemerintah. Para eksekutif OpenAI mengklaim menggunakan "pendekatan yang lebih luas dan berlapis-lapis" yang memadukan bahasa kontrak dan pengamanan teknis. Namun, langkah ini menuai kecaman luas, merusak reputasi perusahaan di mata konsumen, dan memicu lonjakan masif penghapusan aplikasi ChatGPT. (*Red)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK