Korban Jiwa Ambruknya Musala Al Khoziny Sidoarjo Mencapai 37 Orang, 26 Santri Masih Hilang
Faktakalbar.id, SIDOARJO –
Proses evakuasi korban tragedi runtuhnya gedung musala di Pondok
Pesantren Al Khoziny
, Buduran, Sidoarjo, terus berlangsung intensif.
Hingga Minggu (5/10/2025) siang,
Tim SAR gabungan
mengonfirmasi jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 37 orang.
Baca Juga:
Tragedi Musala Ponpes Al Khoziny: Korban Jiwa Bertambah Jadi 14 Orang, 49 Santri Masih Dicari
Sejak Minggu pagi pukul 06.30 WIB hingga pukul 12.00 WIB, tim berhasil mengevakuasi 12 jenazah baru dan satu potongan tubuh dari reruntuhan bangunan empat lantai tersebut.
Penemuan ini menambah daftar korban jiwa dan secara otomatis mengurangi jumlah korban yang dilaporkan hilang, kini tersisa 26 orang dalam pencarian.
Meski demikian, angka tersebut masih bersifat sementara karena didasarkan pada data absensi santri dari pihak pondok pesantren.
Deputi Bidang Penanganan Darurat
BNPB
, Mayjen TNI Budi Irawan, menyatakan bahwa kepastian data baru akan diperoleh setelah seluruh proses evakuasi selesai.
“Tapi ini kan data dari pihak pondok pesantren. Nanti itu akan terbukti akurat apabila seluruh pembersihan telah selesai dan mencapai titik tanah lantai dasar sebagai akhir dari pencarian kita,” jelas Budi pada Minggu (5/10).
Menurut laporan tim di lapangan, sebagian besar jenazah ditemukan di area lantai satu sisi utara bangunan.
Baca Juga:
Korban Tewas Gedung Ponpes Sidoarjo Ambruk Bertambah Jadi 7 Orang
Keberhasilan ini dicapai setelah lebih dari 60 persen puing dan material reruntuhan berhasil diangkat oleh tim.
“Yang paling banyak ditemukan ada di lantai satu,” ungkap Budi.
Kendala Pembersihan Puing dan Solusinya
Meskipun progres pembersihan puing sudah mencapai lebih dari 60 persen, tim gabungan menghadapi satu kendala teknis yang signifikan.
Ditemukan sebuah struktur beton yang masih terhubung dengan bangunan lain di sebelahnya, sehingga berisiko menyebabkan kerusakan lebih lanjut jika tidak ditangani dengan hati-hati.
Sebagai solusi, BNPB telah menggandeng tim ahli dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk melakukan investigasi forensik pada struktur bangunan.
“Beton ada yang menempel di sebelah kiri dan terhubung dengan gedung atau bangunan lain di sebelahnya. Tim dari ITS akan melakukan investigasi dan memberikan petunjuk kepada tim agar proses pembersihan ini tidak mengganggu atau merusak bangunan lain,” terang Budi.
Mitigasi Risiko Kesehatan di Lokasi Bencana
Memasuki hari ketujuh, penanganan insiden Musala Al Khoziny ini juga berfokus pada mitigasi risiko kesehatan bagi tim penyelamat dan lingkungan sekitar.
Tim SAR yang bekerja 24 jam dengan sistem shift mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan dan mengalami gejala kesehatan seperti gatal-gatal.
Untuk itu, Dinas Kesehatan menyediakan layanan ekstra berupa suplemen, vitamin, hingga penanganan medis untuk menjaga stamina para personel.
Baca Juga:
SAR Ponpes Al Khoziny Kini Fokus Evakuasi Korban Meninggal Dunia
Selain itu, potensi penyakit lanjutan akibat proses pembusukan jenazah yang telah berlangsung selama tujuh hari menjadi perhatian serius.
Meskipun jenazah korban tidak menularkan penyakit secara langsung, kontaminasi cairan pembusukan pada sumber air bersih dapat memicu penyakit berbasis lingkungan seperti diare atau kolera.
Untuk mencegahnya, BNPB bersama Dinkes dan BPBD Provinsi Jawa Timur meningkatkan intensitas penyemprotan disinfektan. BNPB juga memastikan ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai bagi seluruh personel.
“Nanti semua keperluan, APD, kacamata google dan apapun BNPB akan dukung. BNPB punya banyak APD dan semua peralatan lain yang dibutuhkan,” tegas Budi.
Dukungan Psikososial untuk Keluarga Korban
Dampak trauma akibat lalu lalang kendaraan darurat dan suasana duka juga menjadi perhatian. Pemerintah melalui dinas terkait telah membuka posko layanan psikososial gratis di dekat lokasi kejadian.
Layanan ini tidak hanya ditujukan bagi keluarga korban yang menunggu kepastian, tetapi juga masyarakat umum.
Bahkan, disediakan pula layanan tambahan seperti pijat refleksi dan bekam tradisional untuk membantu menjaga kondisi fisik dan mental para wali santri yang setia menanti.
BNPB, Basarnas, TNI, Polri, dan seluruh pihak yang terlibat memohon doa dan dukungan dari masyarakat agar seluruh upaya kemanusiaan ini dapat segera tuntas secara maksimal.
Baca Juga:
Lima Korban Selamat Ditemukan di Reruntuhan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo
(*Red)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.