faktakalbar

Krisis Mangsa Ancam Populasi Harimau Sumatra di Leuser

Penulis: Redaksi Tuesday, 23 December 2025 📖 2 menit
Krisis Mangsa Ancam Populasi Harimau Sumatra di Leuser
Faktakalbar.id, NASIONAL - Keberlangsungan hidup harimau sumatra ( Panthera tigris sumatrae ) di Taman Nasional Gunung Leuser kini menghadapi tantangan serius. Penelitian terbaru mengungkap fakta bahwa luas hutan saja tidak cukup menjamin kelestarian predator puncak ini tanpa adanya ketersediaan mangsa yang memadai. Kondisi krusial tersebut terungkap dalam publikasi ilmiah di jurnal Nature Conservation pada 1 Juli 2025. Baca Juga:  Soal Konten Rizki Kabah Hina Suku Dayak, Wagub Kalbar: Berhati-hati Bicara di Ruang Publik “Mulutmu Harimaumu” Peneliti Hadi Saputra menyoroti bahwa harimau sumatra merupakan karnivora yang sangat bergantung pada ketersediaan pakan di habitat alaminya. "Tanpa mangsa yang cukup, habitat sebaik apa pun tidak akan mampu menopang keberadaannya," tulis Hadi dalam penelitiannya yang bertajuk Distribusi Harimau Sumatra di Taman Nasional Gunung Leuser . Ketergantungan pada Satwa Mangsa Hasil analisis data menunjukkan bahwa harimau lebih sering menghuni wilayah dengan populasi mangsa utama yang melimpah, seperti rusa ( Rusa unicolor ), babi hutan ( Sus scrofa ) , dan kancil ( Tragulus sp. ). Peta penelitian memperlihatkan adanya tumpang tindih hingga 40,3 persen antara habitat yang cocok bagi harimau dengan wilayah ketersediaan mangsa. Statistik ini menegaskan bahwa tanpa populasi mangsa yang sehat, harimau tidak akan bertahan lama. "Kehadiran mangsa utama menjadi penentu paling kuat dalam pemilihan habitat harimau Sumatra," ujar Hadi. Temuan ini mematahkan anggapan bahwa perlindungan harimau cukup dilakukan dengan menjaga kawasan hutannya saja. Penelitian yang menggunakan metode pemodelan Random Forest dan Maximum Entropy (MaxEnt) ini membuktikan bahwa mangsa dan tutupan hutan harus berjalan beriringan. "Kedua algoritma memperlihatkan bahwa mangsa dan hutan adalah kombinasi kunci yang meningkatkan peluang kehadiran harimau Sumatra," tambahnya. Memicu Konflik Manusia dan Satwa Krisis ketersediaan mangsa membawa dampak domino yang berbahaya. Ketika stok makanan di dalam hutan menipis, harimau akan terdorong keluar dari habitat alaminya menuju wilayah permukiman. Baca Juga: Pekerja Asal Sambas Tewas Diterkam Harimau di Pelalawan Kondisi inilah yang kerap memicu konflik antara manusia dan satwa liar. Oleh karena itu, upaya konservasi di kawasan seluas 830 ribu hektare tersebut harus mencakup pemulihan rantai makanan, bukan sekadar patroli anti perburuan. "Pemulihan populasi mangsa adalah langkah paling mendasar dalam menjaga keberlangsungan harimau Sumatra," tegas Hadi menutup laporannya. (*Sari)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK