faktakalbar

Horor di el-Fasher Sudan: Laporan PBB Ungkap 6.000 Orang Tewas Dibantai dalam 3 Hari

Penulis: Redaksi Sunday, 15 February 2026 📖 2 menit
Horor di el-Fasher Sudan: Laporan PBB Ungkap 6.000 Orang Tewas Dibantai dalam 3 Hari
Faktakalbar.id, INTERNASIONAL – Laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap sisi kelam perebutan kekuasaan di Sudan yang telah menelan korban jiwa dalam skala masif. Sedikitnya 6.000 orang dilaporkan tewas hanya dalam kurun waktu tiga hari saat pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) merebut kota el-Fasher. Kesaksian para penyintas menggambarkan situasi di lapangan layaknya adegan film horor. Pembantaian massal, eksekusi tanpa pengadilan ( extrajudicial execution ), penyiksaan, hingga kekerasan seksual dilaporkan terjadi secara sistematis. Baca Juga:  Dekatkan Layanan ke Warga, Samsat Gokatan dan Go PBB Hadir Keliling Kecamatan di Pontianak Berdasarkan data PBB, sekitar 4.400 orang tewas di dalam kota, sementara 1.600 lainnya dibantai saat mencoba melarikan diri melalui jalur keluar. Konflik yang telah berlangsung selama hampir tiga tahun antara tentara reguler dan RSF ini telah memicu krisis kemanusiaan terbesar di dunia saat ini. Lebih dari 13 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, dan ratusan ribu nyawa melayang akibat perang saudara yang kian brutal. Di wilayah Darfur Barat, RSF bahkan dituduh melakukan tindakan genocide terhadap komunitas non-Arab. Tekanan internasional terhadap para aktor di balik konflik ini mulai meningkat. Inggris baru-baru ini menjatuhkan sanksi kepada enam tokoh kunci, termasuk komandan senior dan warga negara asing yang diduga merekrut tentara bayaran ( mercenary ) asal Kolombia untuk bertempur bagi RSF. Selain itu, muncul desakan untuk menyelidiki dugaan pengalihan senjata dari negara-negara pendukung yang memperkeruh suasana perang. Di tengah kekacauan ini, koalisi yang berafiliasi dengan RSF, Aliansi Pendiri Sudan, mengumumkan rencana pembentukan pemerintahan tandingan di bagian barat negara itu. Namun, langkah tersebut langsung ditolak keras oleh Uni Afrika karena dinilai mengancam kedaulatan dan prospek persatuan Sudan di masa depan. Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Türk, memperingatkan bahwa pelanggaran berat oleh pasukan di bawah komando kedua belah pihak terus terjadi tanpa henti. Situasi di el-Fasher menjadi bukti nyata bagaimana warga sipil menjadi tumbal dalam perebutan kekuasaan yang mengabaikan hukum internasional dan prinsip kemanusiaan universal. Baca Juga:  Selesaikan Misi PBB, KRI Sultan Iskandar Muda-367 Disambut Hangat Dubes RI di Jeddah (Mira)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK