faktakalbar

Microsoft Klaim AI Lebih Akurat dari Dokter dalam Diagnosis Kasus Medis Kompleks

Penulis: Redaksi Saturday, 05 July 2025 📖 2 menit
Microsoft Klaim AI Lebih Akurat dari Dokter dalam Diagnosis Kasus Medis Kompleks
Faktakalbar.id, LIFESTYLE - Microsoft mengklaim bahwa sistem kecerdasan buatannya (AI) dapat memberikan hasil diagnosis yang lebih akurat dibandingkan dokter manusia, khususnya dalam kasus medis yang kompleks. Hal ini diungkapkan oleh unit AI Microsoft yang dipimpin oleh Mustafa Suleyman. Timnya mengembangkan sistem AI yang meniru cara kerja panel dokter ahli dalam menangani kasus-kasus diagnostik yang menantang secara intelektual. Baca Juga: Perplexity AI: Mesin Pencari Cerdas Alternatif Google, Dapat Jawaban Langsung dan Bisa Cek Sumbernya Dalam pengujian terhadap delapan dari 10 studi kasus dari New England Journal of Medicine (NEJM) , sistem AI Microsoft yang dipasangkan dengan model o3 milik OpenAI mampu menyelesaikan kasus dengan akurasi tinggi. Sebaliknya, ketika kasus-kasus ini diuji oleh dokter manusia tanpa akses ke referensi atau rekan sejawat, tingkat keberhasilan hanya dua dari 10. “AI dapat melengkapi dokter, bukan menggantikannya, Peran klinis dokter jauh lebih luas daripada sekadar diagnosis. Mereka harus mampu menghadapi ambiguitas dan membangun kepercayaan dengan pasien dan keluarganya hal yang tidak bisa dilakukan oleh AI.” tulis Microsoft dalam blog resmi mereka. Menurut Microsoft, pendekatan baru ini jauh lebih efisien karena mampu memesan tes diagnostik yang tepat dengan biaya lebih rendah dibandingkan dokter manusia. AI akan mengajukan pertanyaan, meminta tes, dan akhirnya menyusun diagnosis berdasarkan data yang tersedia, menyerupai cara kerja dokter di dunia nyata. Sebagai contoh, AI mampu meminta pemeriksaan darah dan rontgen dada sebelum mendiagnosis pasien dengan gejala batuk dan demam sebagai pneumonia. Sistem yang dikembangkan disebut “orkestrator diagnostik,” yakni agen AI yang mengarahkan diagnosis dan pemesanan tes medis secara strategis. Baca Juga: Unpad Terbitkan Aturan Baru soal Penggunaan AI Generatif dalam Pembelajaran Orkestrator ini dirancang untuk bekerja sama dengan berbagai model AI, seperti OpenAI (pengembang ChatGPT), Google Gemini, Grok milik Elon Musk, Meta, dan Anthropic. Dalam studi ini, tim Suleyman mengubah lebih dari 300 studi NEJM menjadi tantangan diagnostik interaktif. Hasilnya menunjukkan AI dapat menampilkan "keahlian yang lebih luas dan mendalam" dibandingkan dokter individu karena AI mampu mengakses dan mengolah informasi dari berbagai disiplin ilmu secara bersamaan. Microsoft juga mengomentari keterbatasan sistem pengujian medis saat ini, seperti Ujian Perizinan Medis AS, yang menurut mereka lebih menekankan hafalan dibandingkan pemahaman mendalam. Ini menjadi indikator bahwa AI yang dikembangkan justru lebih unggul dalam proses berpikir analitis. Meski menunjukkan hasil menjanjikan, Microsoft mengakui bahwa sistem ini belum siap untuk digunakan dalam praktik klinis secara luas. Baca Juga: WWDC 2024 Apple Hadirkan Inovasi AI Terbaru untuk Perangkat Apple Diperlukan pengujian tambahan terhadap gejala yang lebih umum agar sistem benar-benar matang. Suleyman optimistis sistem AI ini akan berfungsi optimal dalam satu dekade ke depan. Microsoft pun terus mengusung visi mereka menuju “kecerdasan super medis” yang dapat membawa perubahan besar dalam dunia kesehatan global. (*Red)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK