faktakalbar

Ketegangan Memuncak, Pakistan Bom Kabul dan Deklarasikan Perang Terbuka terhadap Afghanistan

Penulis: Redaksi Sunday, 01 March 2026 📖 1 menit
Ketegangan Memuncak, Pakistan Bom Kabul dan Deklarasikan Perang Terbuka terhadap Afghanistan
Faktakalbar.id, KABUL - Pakistan meluncurkan serangan udara besar-besaran yang menargetkan ibu kota Afghanistan, Kabul , serta dua provinsi lainnya pada Jumat (28/2/2026). Baca Juga:  Ketegangan Memanas, Angkatan Udara Pakistan Lancarkan Serangan ke Wilayah Afghanistan Serangan ini menandai eskalasi mematikan terbaru setelah bentrokan lintas batas yang terjadi hanya beberapa jam sebelumnya. Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Mohammad Asif, secara tegas menyatakan situasi saat ini sebagai "perang terbuka". Pernyataan ini muncul setelah berbulan-bulan terjadi bentrokan susulan meskipun kedua negara sempat menandatangani gencatan senjata yang dimediasi oleh Qatar pada tahun 2025 lalu. Serangan udara di Kabul, Paktia, dan Kandahar dilaporkan menewaskan 133 pejabat Taliban Afghanistan dan melukai lebih dari 200 orang lainnya. Pakistan menuduh Taliban telah mengumpulkan militan dari seluruh dunia dan mulai "mengekspor terorisme" ke wilayah mereka. "Kesabaran kami kini telah habis. Sekarang adalah perang terbuka di antara kita," tulis Menhan Khawaja Mohammad Asif melalui media sosial resminya. Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Afghanistan melaporkan bahwa pasukan mereka telah membunuh 55 tentara Pakistan dalam bentrokan perbatasan pada Kamis malam. Baca Juga:   Operasi Epic Fury: Persenjataan Rudal Iran Jadi Penentu Konfrontasi Regional Afghanistan mengeklaim serangan tersebut adalah bentuk pembalasan atas serangan udara Pakistan sebelumnya di wilayah perbatasan. Mereka juga melaporkan penghancuran 19 pos tentara Pakistan dan dua pangkalan militer. Akibat kekerasan ini, warga sipil di kedua sisi perbatasan Durand Line mulai dievakuasi. Pihak berwenang Afghanistan mengevakuasi kamp pengungsi di dekat penyeberangan Torkham setelah beberapa pengungsi terluka dan 13 warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak, dilaporkan tewas. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, melalui juru bicaranya, telah mendesak kedua pihak untuk melindungi warga sipil dan terus berupaya menyelesaikan perbedaan melalui jalur diplomasi. Namun, hingga saat ini, upaya negosiasi yang ditengahi oleh Qatar dan Turki pada Oktober lalu terlihat semakin goyah seiring meningkatnya aksi militer di lapangan. (FR)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK