BNPB Rilis Data Bencana Terkini, Sejumlah Wilayah Terdampak Hidrometeorologi
Faktakalbar.id, NASIONAL -
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (
BNPB
) melaporkan 27 kejadian bencana yang terjadi di Indonesia dalam kurun waktu (29/9) hingga (30/9).
Dari jumlah tersebut, tujuh di antaranya merupakan bencana baru yang didominasi oleh fenomena hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem.
Kejadian ini mencakup banjir, angin kencang, hingga tanah longsor yang melanda beberapa wilayah di Jawa dan Sumatra.
Baca Juga:
Bencana Terbaru di Indonesia: BNPB Catat Kejadian Bencana dan Antisipasi Dampak Cuaca
Cuaca Ekstrem Memicu Bencana di Berbagai Daerah
Di Jawa Tengah, cuaca ekstrem menyebabkan kerusakan di beberapa kabupaten. Di Kabupaten Temanggung, angin kencang merusak 12 rumah dan memaksa 2 orang mengungsi.
Tim gabungan dan warga setempat langsung bergotong-royong membersihkan puing-puing. Kejadian serupa juga terjadi di Kabupaten Magelang, di mana 13 rumah mengalami kerusakan.
Sementara itu, di Kabupaten Sragen, 25 rumah yang dihuni 84 jiwa terdampak.
Bergeser ke Jawa Timur, 18 rumah di Kabupaten Malang rusak akibat cuaca ekstrem. BPBD setempat bergerak cepat menyalurkan bantuan sembako.
Di Kabupaten Magetan, tanah longsor di lokasi galian C menelan satu korban jiwa. Tim evakuasi berhasil menemukan jasad korban dan menyerahkannya kepada keluarga.
Sementara itu, di Sumatra, banjir merendam 15 desa di lima kecamatan di Kabupaten Bengkulu Utara, merendam 563 KK.
Meski air berangsur surut, 15 KK sempat mengungsi. Pemerintah daerah dan instansi terkait mendirikan dapur umum dan menyalurkan bantuan darurat.
Bencana lain yang dilaporkan adalah kebakaran lahan seluas 2 hektare di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Tim pemadam dibantu warga berhasil mengatasi api.
Baca Juga:
Laporan Terbaru BNPB: Penanganan Bencana di Indonesia Fokus pada Gempa Banyuwangi dan Longsor Demak
Perkembangan Penanganan Bencana Sebelumnya
Selain kejadian baru, BNPB juga memperbarui data 10 kejadian bencana sebelumnya.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian utama dengan luasan signifikan di Kalimantan Barat (±19.267 hektare), Kalimantan Tengah (±951 hektare), dan beberapa provinsi lain.
Meski tingkat kemudahan terbakar menurun, potensi karhutla tetap harus diwaspadai.
"Tingkat kemudahan terbakar mulai menurun, potensi karhutla tetap diwaspadai mengingat pola cuaca kering masih berlangsung di sebagian wilayah," kata BNPB.
Di klaster kekeringan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, mencatat 2.527 KK terdampak, dengan penyaluran air bersih hingga 60.000 liter per hari. Kekeringan juga terjadi di Kabupaten Agam, Sumatra Barat.
Aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-Laki di Flores Timur, NTT, kini berstatus Siaga (Level III) setelah sebelumnya Awas (Level IV).
Sebanyak 3.177 jiwa masih berada di pengungsian. Sementara itu, gempa bumi di Jawa Timur dan Bali pada 26 September lalu berdampak pada 110 KK. Tim gabungan terus melakukan pemulihan dan trauma healing.
Waspada Peralihan Musim dan Dinamika Atmosfer
BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi peralihan musim. Menurut data BMKG, wilayah Indonesia bagian selatan memasuki periode transisi dari kemarau ke hujan.
"Masa peralihan ini ditandai dengan hujan intensitas tinggi yang datang tiba-tiba, disertai petir, angin kencang, dan potensi puting beliung," kata BNPB. "Kondisi tersebut meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, serta kerusakan infrastruktur akibat angin kencang."
Selain itu, Siklon Tropis BUALOI di Laut Cina Selatan juga berpotensi menyebabkan hujan sedang hingga lebat di Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua Barat Daya.
Baca Juga:
Banjir Rendam 2 Kabupaten di Kalteng, BNPB Laporkan Rentetan Bencana di Sejumlah Wilayah
Faktor lain seperti pertemuan angin di berbagai wilayah juga dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan.
Menanggapi kondisi ini, BNPB mengimbau masyarakat untuk mengambil langkah mitigasi.
"Lakukan langkah mitigasi sederhana, seperti memangkas dahan pohon rawan tumbang, memperkuat atap dan struktur rumah, membersihkan saluran air, serta memantau prakiraan cuaca dari lembaga terkait," ungkap BNPB.
"Pemerintah daerah bersama BPBD diharapkan dapat memastikan kesiapan sarana prasarana, mulai dari jalur evakuasi hingga lokasi pengungsian."
(*Red)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.