Bocor, Rusia Pakai Mesin Barat untuk Genjot Produksi Meriam Tank dan Artileri
Faktakalbar.id, MOSKOW -
Rusia
dilaporkan telah memperluas kapasitas produksi laras artileri dan meriam tank di fasilitas pertahanan utamanya, Pabrik No. 9, yang berlokasi di
Yekaterinburg
.
Ironisnya, ekspansi masif ini terindikasi menggunakan mesin-mesin industri buatan negara-negara Barat dan sekutunya, meskipun sanksi internasional telah diberlakukan secara ketat, Kamis (12/2/2026).
Baca Juga:
Mengenal Su-34 Fullback, “Predator” Supersonik Rusia yang Mendominasi Langit Ukraina
Media pertahanan Ukraina,
Militarnyi
, mengutip dokumen pengadaan yang dianalisis oleh
Frontelligence Insight
, mengungkapkan bahwa pabrik tersebut telah menjalani rekonstruksi dan modernisasi teknis.
Pabrik No. 9 dikenal sebagai produsen utama laras untuk howitzer swa-gerak
2S35 Koalitsiya
, sistem
2S19 Msta
, serta meriam untuk tank
T-90
dan
T-14 Armata.
Ekspansi ini dilakukan untuk mengatasi keausan cepat pada laras artileri akibat intensitas pertempuran yang tinggi di Ukraina.
Analisis menyebutkan bahwa ketergantungan pada artileri masih sangat tinggi.
“Perang semakin menjadi perang drone, tetapi ini tidak berarti bahwa cara peperangan lain telah kehilangan relevansinya,”
bunyi laporan tersebut.
Diprediksi pada tahun 2025, sekitar seperempat hingga sepertiga kerugian di medan perang masih akan disebabkan oleh tembakan artileri dan mortir.
Baca Juga:
Rusia Klaim Tembak Jatuh Jet Tempur F-16 Ukraina Menggunakan S-300
Temuan paling mencolok dalam dokumen tersebut adalah daftar mesin industri yang diinstalasi berasal dari pabrikan Eropa dan Asia yang seharusnya membatasi ekspor ke Rusia.
Peralatan tersebut mencakup mesin dari KAFO dan Glory (Taiwan), TACCHI dan PARPAS (Italia), DMG MORI, LIEBHERR, dan HERMLE AG (Jerman), serta JONES & SHIPMAN (Inggris).
Mesin-mesin ini krusial untuk pemesinan presisi dan pembentukan roda gigi dalam produksi senjata.
Analisis menyimpulkan bahwa ekspansi semacam itu “tidak mungkin dilakukan tanpa akses ke mesin dan teknologi asal Barat.”
Padahal, sanksi telah dijatuhkan oleh Uni Eropa, Amerika Serikat, dan negara mitra lainnya sejak lama.
Selain alat berat, data produksi amunisi Rusia juga menunjukkan peningkatan signifikan. Pada tahun 2025, pengiriman peluru mortir 120 mm diproyeksikan naik 37,3 persen menjadi 1,961 juta butir.
Sementara pesanan peluru artileri 152 mm meningkat 10,2 persen menjadi 1,717 juta butir.
Hal ini mengindikasikan upaya Rusia untuk memperkuat produksi domestik dan mengurangi ketergantungan mutlak pada pasokan dari sekutunya seperti Iran atau Korea Utara.
(FR)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.