Inovasi Tata Kelola Air PT Mayawana Persada Jaga Kelembapan Gambut di Areal Bernilai Konservasi Tinggi
Faktakalbar.id, KETAPANG
– PT Mayawana Persada memaparkan implementasi sistem tata kelola air
(water management)
inovatifnya dalam agenda Monitoring dan Evaluasi (
Monev
) Orang Utan, Stok Karbon Tinggi (
HCS
), dan Areal Bernilai Konservasi Tinggi (
HCV
) 2025.
Kegiatan yang turut dihadiri oleh akademisi dari Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (UNTAN) dan perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (
DLHK
) Provinsi Kalimantan Barat ini menjadi
platform
untuk menunjukkan pendekatan perusahaan yang berbasis data dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Sistem tata kelola air ini merupakan komponen krusial dalam strategi keberlanjutan perusahaan, yang dirancang untuk menjaga stabilitas hidrologis pada lanskap gambut.
Tujuannya adalah memitigasi risiko kebakaran hutan dan lahan (
karhutla
) sekaligus melindungi areal
HCV
dan
HCS
yang menjadi habitat penting bagi keanekaragaman hayati, termasuk orang utan.
Baca Juga:
Sinergi Ekonomi Lokal: Bagaimana Model Bisnis Mayawana Persada Mengakar pada Pemberdayaan Komunitas
Untuk mencapai presisi operasional, perusahaan membangun serangkaian infrastruktur hidrologis seperti bendungan air dengan sistem limpasan (
spillway
) bagian dari sekat kanal dan kolam pengendapan (
sediment pond
).
Perancangan infrastruktur ini didasarkan pada kalkulasi teknis yang cermat, melibatkan analisis data curah hujan, luasan daerah tangkapan air (
catchment area
), dan perbedaan elevasi kontur lahan untuk mengoptimalkan kontrol aliran air.
Di hadapan perwakilan Fakultas Kehutanan UNTAN dan DLHK Kalbar,
Ripil Hadi
, bagian
operasional Water Management
PT Mayawana Persada
, memaparkan detail teknis dari sistem monitoring perusahaan.
"Fokus utama kami adalah menjaga tinggi muka air tanah (TMA) sesuai regulasi pemerintah, yakni pada level 40 cm. Untuk memastikan kepatuhan, kami melakukan pengukuran secara periodik, yaitu dua kali dalam sebulan, di 43 titik pantau yang tersebar di seluruh areal,"
papar Ripil Hadi di lokasi titik pantau, Sabtu, (23/08/2025).
Baca Juga:
Dari Warga Lokal Menjadi Profesional: Model Pengembangan SDM di Fiber Learning Academy Mayawana Persada
Ia merinci lebih lanjut;
"Dari 43 titik tersebut, 4 titik telah dilengkapi sistem
logger
otomatis untuk pemantauan data secara
real-time
, sementara 39 titik lainnya dipantau secara manual oleh tim khusus. Seluruh data hasil pengukuran ini kami laporkan secara daring dan transparan kepada kementerian terkait."
Dalam sesi tersebut,
Ripil Hadi
juga mendemonstrasikan secara langsung proses pengukuran TMA yang terstandarisasi.
[caption id="attachment_43294" align="aligncenter" width="565"]
Tim operasional PT Mayawana Persada mendemonstrasikan proses pengukuran manual Tinggi Muka Air Tanah (TMA) di titik pantau TP-TMAT MWP-3. (Dok. Faktakalbar.id)[/caption]
"Sistem pengukuran ini bersifat permanen dan dapat diverifikasi oleh siapa pun untuk membuktikan validitas data kami di lapangan. Pengukuran terakhir di titik penaatan TP Mat mwp 03 menunjukkan hasil 38 cm, angka yang menegaskan bahwa level air tanah berada dalam standar aman yang ditetapkan,"
tutupnya.
Kegiatan monitoring bersama ini menggarisbawahi pendekatan
PT Mayawana Persada
yang berbasis data dan transparan, di mana praktik operasional dan tanggung jawab ekologis berjalan secara sinergis serta dapat diverifikasi oleh para pemangku kepentingan dari kalangan akademisi dan pemerintah.
(RDL/*Red)
Tag:
#pencegahan Karhutla
#PT Mayawana Persada
#Tata Kelola Air
#Ekosistem Gambut
#Kehutanan Berkelanjutan
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.