faktakalbar

Kabut Asap Karhutla Kembali Mengganggu Aktivitas Warga di Sumatra dan Kalimantan

Kabut asap karhutla mengganggu sekolah dan pelayaran di Berau serta Pekanbaru. Ribuan warga di Muaro Jambi dilaporkan terdampak ISPA.

Penulis: Clara Friday, 09 October 2026 📖 1 menit
Kabut Asap Karhutla Kembali Mengganggu Aktivitas Warga di Sumatra dan Kalimantan
Kabut asap karhutla mengganggu sekolah dan pelayaran di Berau serta Pekanbaru. Ribuan warga di Muaro Jambi dilaporkan terdampak ISPA. (dok.ist)

Faktakalbar.id - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengganggu aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan. Dampaknya meluas, mulai dari kegiatan belajar mengajar hingga transportasi sungai, sementara paparan asap juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan warga.

Di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, kabut asap pekat menyelimuti kawasan permukiman dalam sepekan terakhir. Kondisi kualitas udara yang memburuk membuat sekolah dari tingkat taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA) meniadakan pembelajaran tatap muka.

Sementara itu, di Kota Pekanbaru, Riau, asap tebal menyelimuti kawasan Sungai Siak. Jarak pandang yang terbatas menimbulkan risiko bagi aktivitas pelayaran kapal barang dan penumpang yang melintasi sungai tersebut menuju berbagai wilayah di Riau hingga Kepulauan Riau.

Pada 8 Oktober 2026, kualitas udara di Pekanbaru dilaporkan berada dalam kategori sangat tidak sehat. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena paparan polutan dari asap kebakaran dapat memperburuk kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

Dampak karhutla juga dirasakan warga Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Menurut laporan MetroTV, masyarakat di wilayah tersebut telah menghadapi paparan kabut asap selama lebih dari satu bulan. Ribuan warga dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dengan kelompok rentan turut terdampak.

Situasi ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga menyentuh sektor kesehatan, pendidikan, dan aktivitas ekonomi masyarakat. Kabut asap yang mengurangi jarak pandang turut meningkatkan risiko keselamatan bagi pengguna jalur transportasi.

Penanganan karhutla dan dampak asap membutuhkan koordinasi antarlembaga, termasuk upaya pemadaman, pemantauan kualitas udara, serta perlindungan masyarakat di wilayah terdampak. Warga juga perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk dan menggunakan masker yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan partikel.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK