Kasus ISPA dan Diare di Ketapang Melonjak Tiga Pekan Terakhir
Faktakalbar.id - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut dan diare di Kabupaten Ketapang terus melonjak selama tiga pekan berturut-turut akibat cuaca ekstrem pada Kamis
Faktakalbar.id - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut dan diare di Kabupaten Ketapang terus melonjak selama tiga pekan berturut-turut akibat cuaca ekstrem pada Kamis (20/8).
Fenomena lonjakan gangguan kesehatan warga tersebut dipicu oleh kabut asap karhutla serta krisis air bersih akibat kemarau panjang.
Data Dinas Kesehatan Ketapang dari 24 puskesmas mencatat penderita ISPA naik dari 587 kasus pada minggu ke-29 menjadi 597 kasus di minggu ke-30.
Jumlah penderita masalah pernapasan tersebut terus membengkak hingga menyentuh angka 673 kasus pada minggu ke-31 tahun 2026.
Selain penyakit saluran pernapasan, tren kenaikan secara signifikan juga melanda penderita penyakit diare di tengah warga.
Laporan medis mencatat kasus diare merangkak naik dari 136 kasus pada minggu ke-29 menjadi 141 kasus pada minggu ke-30.
Kenaikan penderita diare kembali berlanjut hingga menembus angka 164 kasus pada laporan minggu ke-31.
Kepala Dinkes Ketapang Feria Kowira membenarkan adanya ancaman ganda terhadap kondisi kesehatan masyarakat tersebut.
“Kasus ISPA memang mengalami peningkatan dalam beberapa minggu terakhir. Kami terus melakukan pemantauan melalui seluruh puskesmas dan rumah sakit untuk memastikan masyarakat yang mengalami keluhan pernapasan mendapatkan penanganan,” ujar Feria.
Penurunan kualitas air baku selama musim kemarau menjadi faktor utama yang memicu maraknya wabah diare di pemukiman.
“Kasus diare juga naik. Kondisi kemarau panjang berpotensi memengaruhi ketersediaan maupun kualitas air bersih. Masyarakat kami imbau untuk memastikan air yang dikonsumsi benar-benar bersih dan aman,” tambahnya.
Pihak kesehatan meminta masyarakat mengoreksi pola konsumsi air serta mengurangi aktivitas di luar rumah saat kabut asap meluas.
Warga yang mulai merasakan gejala gangguan pernapasan maupun pencernaan diminta segera mendatangi pusat pelayanan kesehatan terdekat.
Meski angka kesakitan terus bertambah, fasilitas kesehatan belum mencatat adanya kasus kematian akibat kedua penyakit tersebut.
Kesiapsiagaan medis terus ditingkatkan guna mencegah keparahan kondisi pasien akibat dampak buruk pencemaran udara.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.