Anti-Klimaks! Baru Satu Menit, Final Bupati Cup Ketapang 'Bubar' dan Berakhir Juara Kembar
Faktakalbar.id, KETAPANG -
Ribuan pasang mata yang memadati
Stadion Tentemak
harus menelan kekecewaan mendalam.
Laga puncak yang digadang-gadang menjadi pesta sepak bola terbesar di
Kabupaten Ketapang
, yakni Final
Bupati Ketapang Cup 2025
, justru berakhir antiklimaks hanya dalam tempo 60 detik, Senin (24/11/25).
Baca Juga:
Aturan Baru ‘Siapa Cepat Dia Dapat’ Makan Korban, Kuota Haji Ketapang 2026 Anjlok Sisa 10 Orang!
Pertemuan antara Kendawangan FC kontra Popeye Tim yang seharusnya menyajikan adu strategi dan fisik selama 90 menit, berubah menjadi panggung emosi tak terkendali. Baru satu menit peluit
kick-off
dibunyikan, tensi langsung memanas akibat pelanggaran keras.
Drama bermula saat wasit mencabut kartu kuning untuk pemain Kendawangan FC bernomor punggung 12.
Namun, setelah intervensi dan diskusi dengan asisten wasit, keputusan tersebut direvisi menjadi kartu merah langsung. Perubahan keputusan ini memicu protes brutal.
Adu mulut, aksi saling dorong, hingga insiden kiper Kendawangan FC yang melepas
jersey
sebagai bentuk protes keras mewarnai lapangan.
Situasi kian tak terkendali hingga nyaris terjadi baku hantam, memaksa wasit mengeluarkan kartu merah kedua bagi kubu Kendawangan. Aparat keamanan pun harus turun tangan mengevakuasi perangkat pertandingan yang menjadi sasaran amarah.
Akibat situasi yang tidak kondusif (force majeure) karena faktor keamanan dan emosi pemain, panitia pelaksana mengambil keputusan solutif namun pahit: Pertandingan dihentikan dan gelar juara Bupati Ketapang Cup 2025 diberikan kepada kedua tim sebagai Juara Bersama.
Keputusan ini menuai reaksi negatif dari para suporter yang merasa "dirampok" hiburannya.
Baca Juga:
Tinggalkan Cara Lama! Ratusan ASN Ketapang Mulai Gunakan AI untuk Pangkas Birokrasi
Rudi (34), pendukung Kendawangan FC, tak bisa menyembunyikan kekesalannya.
"Saya sudah datang dari siang ke sini, mau lihat pertandingan. Baru mulai satu menit sudah ricuh. Jujur, kecewa sekali. Harusnya pemain bisa lebih tenang, ini kan pertandingan bergengsi,"
ujarnya.
Senada dengan Rudi, Andi (28), pendukung Popeye FC, menilai insiden ini mencederai semangat sportivitas.
"Kami penonton mau lihat bola, bukan keributan. Rasanya sayang, final sebesar ini malah berakhir tanpa pemenang. Suasana sudah bagus, stadion penuh, tapi akhirnya buat kecewa,"
keluhnya.
Insiden ini menjadi catatan hitam bagi persepakbolaan lokal, di mana mentalitas siap menang dan siap kalah masih menjadi pekerjaan rumah besar di tengah euforia kompetisi.
(ra)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.