faktakalbar

Sinergi Ekonomi Lokal: Bagaimana Model Bisnis Mayawana Persada Mengakar pada Pemberdayaan Komunitas

Penulis: Redaksi Sunday, 24 August 2025 📖 2 menit
Sinergi Ekonomi Lokal: Bagaimana Model Bisnis Mayawana Persada Mengakar pada Pemberdayaan Komunitas
Faktakalbar.id, KETAPANG - Di tengah lanskap industri kehutanan, sebuah model bisnis yang mengintegrasikan pertumbuhan perusahaan dengan kemajuan komunitas secara sistematis mulai terbentuk. Mayawana Persada tidak menempatkan pemberdayaan masyarakat sebagai program sampingan, melainkan sebagai inti dari strategi operasionalnya. Hal ini tercermin jelas pada data ketenagakerjaan mereka, di mana garis antara perusahaan dan masyarakat lokal menjadi semakin membaur. Fakta di lapangan berbicara lebih kuat dari pernyataan visi. Data per (30/04/2025) menunjukkan bahwa tiga dari empat karyawan di perusahaan ini adalah putra-putri daerah Kalimantan Barat , sebuah komposisi yang mencapai 76% dari total tenaga kerja internal. Baca Juga:  Dari Warga Lokal Menjadi Profesional: Model Pengembangan SDM di Fiber Learning Academy Mayawana Persada Angka ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari kebijakan rekrutmen yang secara sadar memprioritaskan talenta dari lingkungan terdekat. Dampaknya tidak berhenti di gerbang perusahaan. Efek domino ekonomi tercipta melalui kemitraan strategis dengan lima kontraktor lokal. Kolaborasi ini menyuntikkan vitalitas ekonomi dengan menciptakan sedikitnya 457 lapangan kerja tambahan. Secara kolektif, ekosistem bisnis yang dibangun Mayawana Persada secara langsung menopang lebih dari 750 keluarga di sekitar wilayah operasionalnya. Mencetak Talenta, Bukan Sekadar Mengisi Posisi Investasi perusahaan pada sumber daya manusia lokal melampaui sekadar rekrutmen. Di Fiber Learning Academy , para talenta ini tidak hanya dilatih, tetapi juga dibentuk. Fasilitas ini berfungsi sebagai inkubator yang dirancang untuk menanamkan DNA profesionalisme dan etos kerja yang khas. Dalam sebuah diskusi pada Jumat, (22/8/2025), Natalion, yang bertanggung jawab atas pengembangan soft skill di akademi tersebut, menguraikan filosofi di baliknya. Menurutnya, setiap peserta pelatihan dibekali kompas moral dan profesional yang sama. "Di Mayawana, kami memiliki core values ," ujarnya. "Kami ingin peserta didik memiliki Ownership (rasa memiliki) yang tinggi terhadap pekerjaannya. Mereka harus menjunjung tinggi Integrity (integritas); tidak boleh abu-abu. Mereka juga dilatih untuk Teamwork (kerja sama tim) dan Continuous Improvement (perbaikan terus-menerus), di mana mereka bebas berkreasi di lapangan." Nilai-nilai ini menunjukkan bahwa tujuan akhirnya bukanlah menciptakan pekerja, melainkan profesional yang berintegritas dan memiliki daya inovasi. Baca Juga:  Kios BBM di Sandai Ketapang Ludes Terbakar, Asap Hitam Membubung Tinggi Membuka Jalur di Luar Kebiasaan Model pemberdayaan ini semakin terlihat melalui program-program non-konvensional. Salah satunya adalah Program Kadet (KDP), sebuah jalur meritokrasi yang memungkinkan karyawan lokal lulusan sekolah menengah dengan kinerja luar biasa untuk mencapai level staf sebuah jenjang yang umumnya mensyaratkan kualifikasi sarjana. Hingga kini, 10 pemuda lokal telah berhasil menembus batas konvensional tersebut melalui KDP. Langkah ini, ditambah dengan adanya program "Mayawana Scholarship" untuk anak-anak karyawan, menandakan sebuah investasi jangka panjang. Mayawana Persada tampaknya memahami bahwa keberlanjutan bisnis mereka tidak hanya bergantung pada kelestarian hutan, tetapi juga pada kekuatan dan kesejahteraan komunitas yang hidup di sekitarnya. (RDL/*Red)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK